Pekalongan — Para pembatik tulis muda di Pekalongan tidak hanya bisa jadi perajin, tapi juga pengusaha fashion.
Hal itulah yang dibuktikan Rumah Batik Tower Bersama Group (TBIG) lewat program Young Batik Entrepreneurs Fashion Fellowship.
Fahmi Sutan Alatas, Head of CSR Department TBIG, menyebut program itu untuk menaikkan kelas para pembatik tulis muda Pekalongan.
"Kami menggembleng para alumni agar tidak hanya piawai dalam membatik, tapi juga cakap dalam merancang, memasarkan, dan menjual karya mereka sebagai produk fashion yang bernilai tinggi," katanya di Jalan Raya, Gumawang Dua, Gumawang, Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Kamis 10 Juli 2025.
Selama 1,5 bulan, sepuluh pembatik muda alumni Rumah Batik TBIG dibekali ilmu desain fashion, pengembangan produk, hingga strategi bisnis oleh mentor-mentor nasional dari Indonesian Fashion Chamber (IFC).
Mereka adalah Taruna Kusmaryuda, T. Dina Midiani, Munira Alatas, dan Daesy Christina T. Jahjadi, sederet nama yang sudah makan asam garam di dunia mode Indonesia.
Ia menyebut program ini sebagai bentuk nyata dedikasi perusahaan untuk mendorong regenerasi pembatik sekaligus pelestarian batik tulis sebagai warisan bangsa.
“Anak-anak ini sudah menguasai teknis membatik, tapi belum paham bagaimana menjualnya,” ujar Fahmi.
Dengan program ini, kata Fahmi, mereka diajak naik kelas.
Tak hanya belajar dari para desainer, para alumni juga diperkenalkan pada aspek industri: soal rantai pasok, produksi massal yang tetap menjaga kualitas, sampai strategi menentukan harga jual yang kompetitif.
Rumah Batik TBIG tak berjalan sendiri tapi berkolaborasi dengan Koperasi Bangun Bersama, yang berperan sebagai penghubung dengan pasar serta memberikan pendampingan usaha hingga akses permodalan.
“Dengan begitu, risiko usaha mereka rendah dan mereka siap mandiri,” tambah Fahmi.
Tak kalah menarik adalah pendekatan yang dibawa Taruna Kusmaryuda, pendiri IFC sekaligus mentor utama program ini.
Taruna menekankan pentingnya setiap pembatik memiliki "DNA desain" yang khas dan tidak saling meniru.
“ Jadi pada akhirnya batik batik para pembatik di Pekalongan ini tidak memproduksi produk yang mirip, sehingga diferensiasi ini akan terjadi. Bagi para pembatik untuk tidak saling mengambil pasar.
Masyarakatp juga akan mendapatkan produk akhir sesuai kebutuhan atau kesukaan mereka masing masing," jelas Nuna, sapaan akrabnya.
Menurutnya, batik yang bagus bukan hanya soal pewarnaan atau motif, tapi juga strategi pasar: siapa target pembeli, seperti apa kebutuhannya, dan bagaimana produk itu hadir sebagai busana siap pakai.
Ia mengajak para peserta berpikir lebih maju.
Batik tulis tak cukup hanya digelar dalam lembaran kain.
Ia harus dipikirkan sebagai baju, sebagai dress, sebagai produk fashion modern yang tetap menghormati akar tradisi.
Lebih jauh, Taruna bahkan akan mengajarkan mereka untuk meramal tren fashion satu tahun ke depan.
“Pembatik harus siap jadi mitra desainer, bukan sekadar penyedia kain,” ujarnya.
Dengan pendekatan itu, batik tulis bukan lagi produk kelas rumahan.
Ia menjadi bagian dari ekosistem industri kreatif nasional yang menjanjikan.
Bukan hanya bertahan, tapi juga bersaing di ranah mode global.
Dari program fellowship ini, para pembatik muda Pekalongan punya kesempatan untuk menembus pasar yang lebih luas.
Nuna menyebut pihaknya juga akan mengajarkan cara memasarkan hingga promosi produk.
Ia ingat bawah pekalongan terkenal dengan beberapa rumah batik.
"Ini yang akan kita timbulkan kembali. Sehingga batik pekalongan dikenal sebagai batik yang beragam, tanpa meninggalkan motif motif dan pewarnaan yang mereka telah lakukan,"jelasnya.
Bukan sebagai pengrajin yang menunggu pesanan, tapi sebagai entrepreneur batik tulis yang mengerti tren, punya karakter, dan siap membentuk brand sendiri.
Bersama TBIG dan Indonesian Fashion Chamber, para pembatik tulis Pekalongan sedang disulap jadi masa depan fashion berbasis tradisi.