BATANG — Bupati Batang M. Faiz Kurniawan meninjau langsung Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) Kalipucang Wetan.
Ia datang bukan sekadar melihat, tapi untuk mengawal langkah besar menuju Clean Industrial City yang bukan hanya slogan, melainkan roadmap konkret dari tingkat desa.
"Visi kita menjadikan Batang sebagai kota industri bersih," tegas Faiz saat berada di lokasi, Kamis, 10 Juli 2025.
Menurutnya, pengelolaan sampah harus ditangani dari akar, yaitu desa, bukan hanya andalkan kota.
"Kalau mau menyelesaikan persoalan lingkungan, kita harus mulai dari desa," ujar Faiz.
TPS 3R di Kalipucang Wetan dianggap cukup *advance* dalam sistemnya, meski masih ada sisa 7,2 persen sampah plastik.
Namun, bagi Faiz, itu bukan kegagalan, melainkan potensi.
"Plastik yang tersisa bisa kita manfaatkan jadi RDF atau pupuk cair," ungkapnya sembari menjelaskan bahwa saat ini sudah masuk tahap studi kelayakan.
Targetnya, tahun depan sudah masuk fase desain dan konstruksi untuk pemanfaatan lanjutan sampah plastik.
Langkah berani ini sejalan dengan pengajuan Dana Alokasi Khusus (DAK) oleh Pemkab Batang guna memperluas model TPS 3R ke desa-desa lain.
“Kalau kita hanya berharap APBD, tidak akan cukup. Maka DAK kita kejar, dan desa juga harus komit sisihkan dana desanya,” ujarnya.
Faiz menekankan bahwa pembangunan industri di Batang harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur lingkungan yang berkelanjutan.
“Kita tak hanya kejar pabrik berdiri, tapi juga bagaimana sampahnya tidak jadi masalah jangka panjang,” katanya.
Langkah ini pun mendapat perhatian dari sejumlah kepala desa yang turut hadir saat kunjungan.
Menurut Faiz, Kalipucang Wetan akan dijadikan percontohan dan desa-desa lain akan diminta meniru sistem ini.
“Semua desa akan kami undang dan kami ajak belajar langsung dari Kalipucang,” katanya penuh optimisme.
Dari sinilah akan dibangun kesadaran kolektif bahwa sampah bukan musuh, tapi peluang bagi ekonomi desa.
Sementara itu, Kepala Desa Kalipucang Wetan, Sugeng Riyanto, menyambut baik rencana replikasi sistem TPS 3R di daerahnya.
"Kami senang bisa jadi contoh. Warga juga terlibat langsung mulai dari pemilahan hingga pengolahan," ucapnya.
Ia berharap bantuan dari pemerintah pusat bisa segera turun, terutama untuk peralatan pengolahan RDF.
Dengan inisiatif semacam ini, Batang tidak lagi hanya dikenal sebagai kawasan industri, tapi juga pionir dalam integrasi lingkungan dan pembangunan.
Langkah Bupati Faiz ini jelas menunjukkan bahwa komitmen terhadap lingkungan tidak bisa ditunda.
Justru harus menjadi pondasi dari industrialisasi yang sehat dan berkelanjutan.
Kalipucang sudah membuktikan, tinggal bagaimana desa-desa lain ikut bergerak.
Jika berhasil, bukan tidak mungkin Batang jadi model nasional pengelolaan sampah desa berbasis industri bersih.