BATANG — Puluhan remaja dari Generasi Berencana (Genre) Kabupaten Batang menggebrak dengan aksi nyata yang jarang dibicarakan: edukasi thalassemia.
Mereka berkumpul di pendopo Perumahan Kalisalak, duduk melingkar, menyimak serius paparan dokter tentang penyakit genetis yang bisa menghantui generasi muda jika tak dicegah sejak dini.
Acara bertajuk Genre In Action 2025: Inklusi dalam Karya Penuh Makna ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum penting membuka jalan literasi kesehatan bagi remaja.
Bagi komunitas Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI) Batang, kehadiran Genre menjadi pintu emas yang selama ini sulit mereka tembus.
“Selama ini kami bingung bagaimana bisa masuk ke kalangan remaja. Ternyata lewat Genre, jalan itu terbuka. Rasanya seperti kejatuhan bintang dari langit,” ungkap dr. Tan Evi, dokter spesialis anak RSUD Kalisari sekaligus Pembina POPTI Batang.
Tak sedikit remaja yang hadir mengaku baru pertama kali mendengar detail soal thalassemia.
Najwa Ulinuha (21), Duta Genre Jawa Tengah asal Batang, terang-terangan menyebut bahwa edukasi ini membuka mata.
“Awalnya saya bahkan baru dengar. Ternyata ini penyakit genetis yang bisa dicegah lewat skrining sebelum menikah. Edukasi ini penting agar remaja lebih peduli,” ucap Najwa.
Ia menambahkan bahwa isu kesehatan remaja sering hanya dikaitkan dengan stunting atau HIV/AIDS, padahal thalassemia tak kalah serius.
Menurut Evi Nurhikmawati dari Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Jateng, Batang dipilih sebagai tuan rumah karena komunitas Genre di daerah ini dikenal aktif dan kompak.
“Anak-anak Genre ingin menekankan bahwa semua remaja berhak mendapatkan literasi yang sama, tanpa diskriminasi. Termasuk teman-teman sebaya dengan kondisi khusus. Jadi mereka tumbuh bersama, belajar bersama,” jelasnya.
Acara ini tak hanya bicara penyakit, tetapi juga memberi penguatan mental dan keterampilan sederhana seperti membuat lilin serta gantungan kunci.
Semua itu dimaksudkan agar remaja lebih mandiri, sekaligus punya bekal kemandirian ekonomi sejak dini.
Bagi Ketua Forum Genre Jawa Tengah, Muhammad Khatibul Umam, perhatian terhadap thalassemia tak sekadar bicara medis, tapi juga menyangkut mental dan psikologi keluarga.
“Anak-anak penyintas thalassemia harus transfusi darah seumur hidup. Itu berat, tidak hanya bagi mereka, tapi juga keluarganya. Kegiatan seperti ini memberi dukungan moral agar mereka tetap bersemangat mengejar cita-cita,” ujarnya.
Ucapan Umam menegaskan bahwa isu thalassemia bukan sekadar statistik, melainkan kenyataan pahit yang harus ditanggung keluarga dari generasi ke generasi jika tak ada langkah pencegahan nyata.
Dengan melibatkan sekitar 30 remaja dari Forum Genre Batang dan Jawa Tengah, kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal gerakan bersama menuju Zero Thalassemia.
Langkah kecil dari pendopo Kalisalak ini seolah memberi sinyal ke pemangku kebijakan daerah untuk lebih serius menangani penyakit yang kerap luput dari perhatian publik.
Genre Batang membuktikan, suara remaja bisa menjadi mesin perubahan yang nyata.
Bukan hanya bicara tentang cinta dan masa depan, tapi juga tentang kesehatan generasi bangsa.