BATANG — Drama SPB di Batang terlihat di menit-menit akhir. Murni (50), warga Kalipucang Wetan, menunggu di lorong Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Batang bersama anaknya di hari terakhir Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Ia sejak awal sudah membidik SMPN 1 Batang sebagai sekolah impian anaknya.
“Pertama saya coba daftar Afirmasi di hari pertama, tapi Kartu Indonesia Pintarnya tidak kebaca, terus coba jalur prestasi,” kata Murni, Rabu 25 Juni 2025.
Hari kedua nilai anaknya di jalur prestasi mental karena kalah dengan pendaftar lain.
Pada hari terakhir jelang penutupan, dirinya pun memilih kembali mendaftar di jalur afirmasi.
“Balik lagi ke prestasi, mental lagi. Akhirnya balik ke afirmasi lagi dan KIPnya bisa. Nomor saya 15 dari 38 kuota,” ceritanya dengan napas berat.
Cerita serupa datang dari Suroso Slamet, warga Rowobelang, yang juga jungkir balik demi anaknya bisa sekolah di SMP Negeri.
“Sejak awal saya daftarin anak di jalur prestasi,” ungkapnya.
Ia mengaku hampir tidak makan karena stres melihat jurnal nilainya terus naik turun.
“Awalnya nomor 70, turun ke 88, paling bawah 93. Deg-degan terus. Nunggu dari jam tujuh pagi sampai sekarang baru lega,” kisahnya sambil menarik napas panjang.
Akhirnya, perjuangannya membuahkan hasil.
Anaknya diterima di SMPN 4 Batang yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari rumah.
Kepala SMPN 4 Batang, Sri Mulyatno, mengakui proses PPDB tahun ini penuh dinamika.
“Kami melayani 128 orang di hari pertama, 50 sampai 100 di hari kedua,” ujarnya.
Menurutnya, hari terakhir adalah puncak ketegangan.
“Ada yang lap-lapan sampai jam 11.50 masih cabut berkas, pindah ke SMP 7,” beber Sri.
Sri mengungkapkan bahwa literasi digital orang tua masih jadi kendala utama.
“Kami tempatkan tiga orang di depan sekolah untuk bantu jelaskan alur. Supaya gak salah paham,” jelasnya.
Bahkan, pihak sekolah menyediakan enam orang helpdesk dan tiga verifikator.
“Kalau gak paham online dari rumah atau kantor, bisa langsung ke kami. Kami bantu verifikasi,” tegasnya.
Menurut Sri, meski server pendaftaran ditutup pukul 12.00, verifikasi masih dibuka hingga jam 13.00.
“Sistem tetap jalan untuk cari sekolah yang masih kosong. Masih ada pergerakan data,” ungkapnya.
Komposisi kuota di SMPN 4 Batang terdiri dari 40 persen domisili, 35 persen prestasi, 20 persen afirmasi, dan 5 persen mutasi.
“Untuk afirmasi, baru terisi 29 dari 45 kuota. Sementara jalur prestasi jumlahnya 224,” sebut Sri.
Drama pendaftaran sekolah negeri di Kabupaten Batang seolah menjadi rutinitas tahunan yang tak pernah tanpa air mata dan keringat.
Bagi Murni, Suroso, dan ratusan orang tua lainnya, perjuangan ini bukan sekadar memilih sekolah.
Ini adalah pertarungan demi masa depan anak-anak mereka.