Pekalongan — Pemerintah Kota Pekalongan memastikan dua pasar darurat yang selama ini menjadi tempat aktivitas perdagangan, yaitu Pasar Darurat Sorogenen dan Patiunus, akan resmi ditutup pada 25 September 2025.
Keputusan itu sekaligus menandai beroperasinya Pasar Banjarsari yang telah lama dinantikan pedagang dan masyarakat.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Pekalongan, Supriono, menegaskan bahwa setelah tanggal tersebut, tidak ada lagi aktivitas jual beli di pasar darurat.
“Para pedagang sudah bisa mulai menempati kios dan los di Pasar Banjarsari. Penutupan pasar darurat ini berarti operasional pasar baru resmi berjalan,” katanya, Sabtu 20 September 2025.
Menurut Supriono, meskipun proses peresmian Pasar Banjarsari belum dijadwalkan, fungsi perdagangan di lokasi baru tetap dimulai sesuai target.
Pemerintah daerah memilih tidak menunggu seremoni resmi agar para pedagang segera kembali berjualan dengan fasilitas yang lebih layak.
Rencana pemanfaatan pasar baru sejatinya sudah bisa dilakukan sejak awal September, namun sejumlah kendala teknis membuat pemindahan pedagang diundur.
Persiapan dilakukan secara matang, mulai dari sosialisasi, penataan lapak, hingga penyediaan fasilitas dasar agar perpindahan berjalan tertib.
Sebelumnya, jadwal pembukaan Pasar Banjarsari sempat ditargetkan pada momentum Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2025.
Namun hasil evaluasi dari kementerian menunjukkan masih ada infrastruktur yang belum rampung, terutama jembatan penghubung antar-gedung.
Kini sebagian besar pekerjaan itu sudah selesai sehingga pemerintah mantap menutup pasar darurat akhir September.
Aktivitas perdagangan di pasar darurat sendiri semakin menurun dalam beberapa minggu terakhir.
Pedagang nonpangan sebagian besar sudah hengkang, menyisakan pedagang kebutuhan pokok yang bertahan sementara.
Begitu perpindahan rampung, fasilitas pendukung di pasar darurat seperti listrik akan diputus, sedangkan bangunan semi permanen yang dipakai akan dilepas melalui mekanisme lelang sebelum dibongkar.
Para pedagang menyambut baik kepindahan ini dengan penuh antusias.
Rofiudin, pedagang kikil dan tauge asal Warungasem, mengaku lega bisa kembali berdagang di Pasar Banjarsari setelah bertahun-tahun berjualan di pasar darurat Sorogenen.
“Rencana pindah tanggal 25 September, tempatnya bagus, Alhamdulillah senang pindah ke sini. Harapannya tambah laris ramai,” ujarnya dengan senyum.
Hal senada disampaikan Warsuni, pedagang sayuran asal Sampangan.
Ia menyebut Pasar Banjarsari akan menghidupkan kembali kebersamaan antar pedagang yang selama ini terpecah di lokasi darurat.
“Tempatnya sudah siap, meja juga ada. Senang pindah karena bisa kumpul dengan teman-teman pedagang seperti dulu,” ungkapnya.
Dengan mulai beroperasinya Pasar Banjarsari, pemerintah berharap aktivitas ekonomi warga kembali tertata, aman, dan nyaman.
Selain itu, pasar baru ini digadang-gadang mampu menjadi pusat perdagangan modern sekaligus tetap mempertahankan nuansa tradisional khas Pekalongan.
Bagi masyarakat, kehadiran pasar yang representatif diyakini akan memberi pengalaman belanja lebih baik sekaligus mendorong geliat ekonomi lokal.