Pekalongan — Tradisi Rebo Wekasan di Pekalongan merupakan salah satu warisan budaya yang masih bertahan hingga kini. Setiap tahun, masyarakat setempat melaksanakannya dengan penuh khidmat pada Rabu terakhir bulan Safar.
Tradisi Rebo Wekasan di Pekalongan tidak sekadar ritual biasa, melainkan memiliki makna spiritual yang mendalam. Masyarakat percaya hari tersebut adalah waktu turunnya bala, sehingga mereka berusaha menolaknya dengan berbagai amalan.
Keunikan tradisi Rebo Wekasan di Pekalongan terlihat dari ragam kegiatan yang dilakukan, mulai dari udik-udikan hingga pembagian makanan. Semua ini bertujuan untuk menjaga harmoni sosial dan spiritual.
Melestarikan tradisi Rebo Wekasan di Pekalongan bukan hanya tentang menjaga adat, tetapi juga memperkuat identitas budaya. Generasi muda diajak untuk memahami nilai-nilai di balik ritual ini agar tidak punah dimakan zaman.
Asal-usul tradisi Rebo Wekasan
Masyarakat Pekalongan meyakini bahwa Rebo Wekasan adalah hari di mana Allah SWT menurunkan berbagai ujian dan musibah.
Keyakinan ini bersumber dari beberapa kitab kuno, seperti Mujarrabat ad-Dairabil-Kabir dan Kanzun Najah Was-Surur.
Oleh karena itu, inti dari tradisi ini adalah memohon perlindungan dan keselamatan dari segala marabahaya. Selain sebagai bentuk ikhtiar spiritual, Rebo Wekasan juga menjadi sarana refleksi diri.
Masyarakat diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sekaligus meningkatkan kepedulian sosial.
Ritual Unik dalam Tradisi Rebo Wekasan
Udik-Udikan: Sedekah dengan Cara Unik
Salah satu kegiatan yang paling dinantikan adalah udik-udikan, di mana uang receh, beras, dan kunyit disebarkan ke kerumunan. Tradisi ini bukan sekadar permainan, melainkan simbol sedekah dan harapan akan rezeki yang melimpah.
Pembagian Makanan: Mempererat Silaturahmi
Masyarakat Pekalongan terbiasa membagikan nasi bungkus, ketan, atau bancaan kepada tetangga. Ini adalah wujud rasa syukur sekaligus upaya memperkuat hubungan sosial.
Amalan Keagamaan: Sholat dan Dzikir Khusus
Tidak hanya aktivitas budaya, Rebo Wekasan juga diisi dengan ibadah seperti sholat sunah daf’il bala’, dzikir, dan pembacaan Al-Qur’an.
Mengambil Berkah Air Sumur
Di Masjid Jami’ Wonoyoso, ada kepercayaan bahwa air sumur tertentu memiliki keistimewaan. Warga berebut mengambilnya untuk pengobatan, kelancaran rezeki, bahkan mempercepat jodoh.
Pelestarian Tradisi di Era Modern
Di tengah arus globalisasi, tradisi Rebo Wekasan di Pekalongan tetap bertahan berkat peran aktif masyarakat dan pemerintah setempat. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari dokumentasi digital hingga pengenalan melalui festival budaya.
Generasi muda juga diajak terlibat agar tradisi ini tidak hilang. Dengan pendekatan yang lebih kekinian, seperti konten media sosial atau workshop, diharapkan nilai-nilai luhur tetap relevan.
Penutup
Tradisi Rebo Wekasan di Pekalongan adalah bukti nyata harmonisasi antara budaya lokal dan nilai-nilai Islam. Dari udik-udikan hingga amalan keagamaan, setiap ritual memiliki pesan moral yang dalam.
Melestarikannya bukan hanya tugas orang tua, tetapi juga tanggung jawab generasi penerus. Dengan memahami makna di balik tradisi Rebo Wekasan di Pekalongan, kita turut menjaga warisan leluhur yang sarat kearifan.