KUDUS — Kualitas hasil panen tanaman tembakau di Kabupaten Kudus cukup baik. Namun petani masih bingung dalam pemasaran tembakau yang belum memiliki kepastian.
Kondisi itu dialami sejumlah petani yang tengah melakukan uji coba penanaman tembakau di Dukuh Krajan, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus. Sebab selama ini, wilayah Kudus yang dikenal sebagai penghasil rokok, namun tak memiliki lahan pertanian tembakau.
Subardi, salah satu petani tembakau Desa Menawan, mengaku bersyukur tanaman tembakaunya tumbuh dengan subur. Sebab pada uji coba penanaman pertama sempat gagal, akibat hujan lebat pada awal masa tanam.
“Ini pertama kali saya menanam tembakau, memang sulit. Untung ada dukungan Kelompok Tani Mekar Melati dan pendampingan dari petugas pertanian. Tapi setelah panen, kami masih bingung menjualnya ke mana,” ujar Subardi pada Sabtu (20/9).
Lahan perkebunan tembakau yang digarap Subardi seluas 7.500 meter persegi. Di atas lahan miliknya, ia menanam bibit sekitar 6.000 batang dengan jenis tembakau Srumpung.
Dari hasil panen yang dilakukan Subardi, lembaran basah daun tembakau kemudian dikeringkan secara mandiri bersama kelompok tani. Hanya saja, hingga kini belum ada pembeli atau pengepul tembakau yang siap menampungnya.
Harga tembakau di pasaran pun fluktuatif. Untuk tembakau kering, harga mulai Rp25 ribu per kilogram untuk kualitas kerosok, Rp40 ribu untuk filler, Rp60 ribu untuk premium, hingga Rp70 ribu untuk super premium.
“Namun harga daun tembakau itu baru didasarkan pada informasi dari daerah lain. Kalau di Kudus sendiri belum ada patokan. Basah saja paling cuma Rp2.000–Rp3.000 per kilo,” ucap Subardi.
Panen Sia sia Tanpa Dukungan Pasar
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Mekar Melati, Susanto menambahkan, program penanaman tembakau di Desa Menawan merupakan bagian dari pemberdayaan pemerintah mendukung kontribusi daerah dalam cukai hasil tembakau.
Namun tanpa dukungan pemasaran, kata Susanto, maka hasil panen petani justru sia-sia. Sebab tujuan utamanya adalah meningkatkan produksi tembakau, agar petani mendapat tambahan penghasilan.
“Tapi hingga kini masalah penjualan belum jelas. Kami berharap ada instansi atau dinas yang bisa membantu membuka akses pasar, terutama ke pabrik rokok yang banyak berdiri di Kudus,” jelasnya.
Dari lima petani tembakau yang tergabung dalam Kelompok Tani Mekar Melati, hanya lahan Subardi dan Darwono yang berhasil panen dengan hasil cukup baik.
Lahan tembakau milik petani lainnya, banyak yang gagal akibat cuaca maupun serangan penyakit. Bahkan untuk saat ini, hasil panen memang belum maksimal. Namun potensi tembakau di Desa Menawan cukup besar, jika pemasaran bisa ditangani dengan serius.