GROBOGAN — Masjid Jabalul Khoir di kawasan Simpang Lima Purwodadi yang dikenal sebagai salah satu ikon religi Kabupaten Grobogan direnovasi. Meskipun banyak bagian diperbarui, wajah asli masjid tetap dipertahankan sebagaimana ketika didirikan sejak tahun 1984 silam.
Sekda Grobogan Anang Armunanto bersama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), imam masjid, tokoh masyarakat, hingga Perwakilan Kantor Kementerian Agama Grobogan beberapa waktu lalu meninjau langsung proses pelaksanaan renovasi.
Ditemui secara terpisah, Anang mengungkapkan, bahwa renovasi tersebut menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025, meski masjid memiliki pemasukan yang cukup besar dari infak dan sebagainya.
Lebih lanjut, Anang membeberkan alasan kenapa renovasi Masjid Jabalur Khoir menggunakan APBD.
”Dianggarkan pakai APBD, karena tanahnya itu milik daerah. Kami yang mengurus APBD-nya, infaknya diurusi sama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM),” terangnya, Jumat (10 Oktober 2025) kemarin.
Seperti diketahui, dalam dokumen Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Grobogan tercatat, untuk renovasi Masjid Jabalul Khoir Grobogan dikerjakan CV Tanjung Jaya yang beralamat di Desa Wedoro, Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Uraian teknis dokumen LPSE juga menyebutkan, konsultan perencananya, yakni Direktur PT Weganda Sricahya, Ucang Sukriswanto. Sedangkan, Pejabat Pembuat Komitmennya adalah Ahmad Taufik Nur, selaku Kepala Bidang (Kabid) Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kabupaten Grobogan.
Ahmad Taufik Nur menerangkan, renovasi lebih kepada penyempurnaan fasilitas, antara lain penggantian plafon lama yang masih berupa papan dan triplek dengan bahan PVC yang lebih tahan air dan cuaca.
“Pemilihan material ini sekaligus menyesuaikan dengan plafon teras yang sudah lebih dahulu diganti oleh pengurus masjid,” imbuhnya.
Taufik melanjutkan, selain plafon, lantai masjid juga ikut dirombak. Bagian dalam dinaikkan 40 sentimeter, sementara serambi depan yang semula lebih rendah kini ditinggikan hingga 60 sentimeter agar sejajar dengan ruang utama. Peninggian ini dilakukan menyesuaikan kondisi jalan sekaligus juga untuk mengantisipasi banjir.
“Finishing lantainnya nanti pakai marmer ukuran 60 x 120 sentimeter. Ukurannya pas untuk satu jamaah. Jadi selain lebih rapi, jamaah juga tidak perlu bingung lagi mencari garis saf karena sudah otomatis sejajar kiblat,” jelasnya.
Berikutnya, Taufik menambahkan, mihrab imam dibuat lebih lebar, supaya imam lebih nyaman dan terlihat. Lalu ada penambahan akses ramah difabel. Sedangkan konstruksi atap baja yang masih kuat akan tetap dipertahankan.
“Intinya, kami tidak mengubah bentuk awal masjid. Struktur asli masih kokoh dan punya nilai estetika. Jadi, yang kami lakukan lebih pada pembaruan supaya masjid tetap nyaman dan representatif tanpa kehilangan jati diri lamanya,” pungkasnya.