Magelang — Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kota Magelang menunjukkan kontribusi nyata terhadap laju pertumbuhan ekonomi daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat sebanyak 3.371 UMKM di Kota Magelang aktif beroperasi dan menjadi tulang punggung kegiatan ekonomi masyarakat.
Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menyampaikan, bahwa UMKM termasuk Pedagang Kaki Lima (PKL), memegang peranan penting dalam menggerakkan ekonomi lokal. Hal ini disampaikan dalam kegiatan pelatihan dan pembinaan UMKM di Aula Kantor DPPKUM pada Senin (22/9/2025).
"PKL dan UMKM adalah tulang punggung ekonomi Kota Magelang. Jumlahnya mencapai 3.371 unit usaha mikro dan kecil, belum termasuk ribuan PKL yang tersebar di berbagai titik," ujar Damar.
Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang telah melakukan penataan lokasi usaha dengan membangun beberapa shelter strategis. Shelter-shelter ini menjadi pusat kuliner dan perdagangan yang tidak hanya mendukung ekonomi lokal tetapi juga menjadi etalase pariwisata.
Beberapa shelter UMKM yang telah beroperasi antara lain, Tuin van Java sebanyak 153 unit, Jenggolo ada 50 unit, Armada Estate ada 35 unit, Sriwijaya ada 28 unit, Badaan sebanyak 25 unit dan Sigaluh ada 32 unit.
"Shelter-shelter ini adalah wajah kuliner dan perdagangan Kota Magelang, sekaligus denyut nadi ekonomi masyarakat," kata Damar.
UMKM Kota Magelang menjadi faktor utama dalam capaian pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 5,56 persen pada tahun 2024. Namun demikian, Damar mengingatkan masih terdapat tantangan yang harus diselesaikan bersama.
Beberapa tantangan utama UMKM Kota Magelang meliputi ketertiban lokasi dan jam operasional, kualitas sarana dagang, sertifikasi halal, higienitas penyajian, akses pemasaran digital serta pembiayaan dan akses permodalan
"Kita ingin UMKM naik kelas. Dari usaha tradisional menjadi modern, dari pedagang lokal menjadi pelaku usaha digital yang bisa bersaing di pasar wisata," jelasnya.
Dalam pembinaan tersebut, Damar menegaskan lima hal penting sebagai strategi peningkatan daya saing UMKM di Kota Magelang, yaitu sertifikasi halal produk pangan, standarisasi penyajian dan kebersihan, lingkungan dagang yang bersih dan sehat, optimalisasi pemasaran digital dan transaksi non-tunai seperti QRIS serta kolaborasi multipihak untuk menjadikan shelter sebagai destinasi kuliner.
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi UMKM Kota Magelang di tengah tren ekonomi digital dan pariwisata lokal.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Usaha Mikro (DPPKUM) Kota Magelang, Syaifullah menyampaikan, bahwa kegiatan pelatihan ini diikuti oleh 20 pengurus shelter UMKM. Pelatihan bertujuan mendorong pelaku usaha agar lebih tertib, higienis, dan adaptif terhadap teknologi digital.
"Kami ingin pengelola shelter menjadi motor perubahan. Mulai dari pengelolaan yang baik, sampai pemanfaatan teknologi untuk pemasaran dan transaksi," ujarnya.