Wonosobo — Video viral yang memperlihatkan ratusan ikan nila mati di kolam milik warga Dusun Cepit, Desa Wulungsari, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, memicu perhatian publik. Diduga limbah minyak dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wulungsari yang disebut bocor ke saluran air sekitar.
Kasus ikan nila mati tercemar limbah ini pertama kali dikeluhkan Sugeng, pemilik kolam, yang melaporkan kematian ikan mulai terjadi sebulan terakhir. Ia mengungkapkan, setiap hari sekitar 5 kilogram ikan nila mati mengambang di permukaan air kolamnya.
"Alirannya melewati dapur SPPG itu. Setelah dapurnya ditutup seminggu lalu, ikan saya tidak mati lagi," kata Sugeng.
Penyebab kematian ikan diduga berasal dari kebocoran pipa pembuangan limbah minyak dari dapur SPPG Wulungsari. Sugeng menyatakan sudah meminta pihak pengelola dapur untuk memperbaiki pipa guna mencegah pencemaran lebih lanjut.
Agus Martono, pengelola SPPG Wulungsari, membenarkan adanya pipa yang bocor, namun menegaskan volume minyak yang keluar sangat kecil dan tidak sampai menyebabkan pencemaran besar.
"Pipanya terbuka karena aliran air deras, tapi sudah diperbaiki. Kolam saya dan kolam warga lain pakai air dari saluran yang sama, ikannya tidak ada yang mati," jelas Agus.
Menurut Agus, kemungkinan penyebab ikan nila mati adalah kekurangan oksigen karena padatnya populasi ikan di kolam Sugeng dan tidak digunakannya kincir air.
"Ikan yang diberi pakan voer tinggi protein butuh oksigen cukup. Kalau padat tebarannya tinggi dan tanpa kincir, bisa kekurangan oksigen," terangnya.
Meski menyangkal pencemaran besar, Agus mengaku telah meminta maaf secara langsung dan menawarkan ganti rugi. Namun tawaran itu ditolak Sugeng karena hubungan keluarga yang masih dekat.
Kasus ikan nila mati tercemar limbah dapur SPPG ini berbuntut pada pemeriksaan mendadak oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Agus menyebut dapur ditutup sementara bukan karena pelanggaran, melainkan menunggu pencairan anggaran.
"Setelah viral, BGN langsung sidak ke dapur SPPG. Tidak ditemukan pelanggaran. Tapi tetap kami jadikan evaluasi," kata Agus yang juga mantan Kepala Desa Wulungsari.
Dapur SPPG Cepit Wulungsari sendiri melayani program makan bergizi gratis untuk sekitar 2.300 siswa di Kecamatan Selomerto dan mempekerjakan 50 warga lokal. Operasional dapur direncanakan akan kembali berjalan dalam pekan ini setelah dana turun.
Sementara itu, Kepala Desa Wulungsari, Septian L. Anggita, membenarkan adanya laporan warga terkait kebocoran limbah minyak dan menyatakan bahwa penyelesaian dilakukan secara kekeluargaan.
"Kami sudah turun langsung. Sekarang sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Dapur SPPG juga sudah memasang filter gastrap di saluran pembuangan," jelas Septian.
Ia juga menambahkan, laporan Sugeng berlangsung selama tiga hingga empat hari, dan pada hari ketiga, jumlah ikan mati sudah berkurang.
Menurut Septian, keberadaan dapur SPPG justru memiliki dampak positif terhadap perekonomian lokal, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dengan gaji yang layak.
"Banyak warga yang terserap jadi pekerja. Kami berharap kejadian serupa tidak terulang," ujarnya.