Wonosobo —
Jumlah perokok di Wonosobo tercatat mencapai 26 persen dari total penduduk dewasa, menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo yang dirilis pada peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61, Rabu (12/11/2025).
Angka tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan, menyebut tren gaya hidup tidak sehat masih tinggi di masyarakat.
"Berdasarkan data Cek Kesehatan Gratis, 33 persen warga mengalami hipertensi, 26 persen perokok aktif, dan hanya 1,5 persen yang memiliki aktivitas fisik cukup," ujarnya di sela peringatan HKN di Rumah Sakit Islam (RSI) Wonosobo.
Peringatan HKN di Wonosobo tahun ini dilaksanakan secara sederhana dengan menonjolkan aksi sosial dan refleksi terhadap tantangan kesehatan masyarakat.
Sejak awal November, kegiatan bakti sosial digelar di sejumlah desa dengan melibatkan dokter, perawat, fisioterapis, hingga psikolog. Sedikitnya 300 warga menjadi sasaran layanan, namun jumlah yang datang melampaui target.
"Pelayanan mencakup 11 jenis, termasuk klinik kecantikan dan pemeriksaan kesehatan gratis," tambah Jaelan.
Selain kegiatan medis, panitia juga menyalurkan bantuan untuk lima rumah tidak layak huni (RTLH), masing-masing senilai Rp20 juta.
Selain isu perokok di Wonosobo, Dinas Kesehatan juga menyoroti persoalan kesehatan jiwa. Hasil survei menunjukkan 26 persen pelajar mengalami gangguan emosional seperti kecemasan, namun hanya 12 persen yang mengakses layanan kesehatan jiwa.
"Kesehatan mental sering terabaikan, padahal merupakan kunci kesejahteraan hidup," ujar Jaelan.
Dalam dua tahun terakhir, Wonosobo telah menerapkan Integrasi Layanan Primer (ILP) di seluruh 24 puskesmas. Dari total 1.309 posyandu, 78 persen kini melayani warga dengan pendekatan ILP, melibatkan 6.780 kader kesehatan terlatih. Upaya tersebut diharapkan memperkuat penanganan penyakit menular dan tidak menular, termasuk pengendalian perilaku merokok.
Indikator kesehatan masyarakat Wonosobo menunjukkan perbaikan. Umur harapan hidup naik dari 73,82 tahun pada 2021 menjadi 74,25 tahun pada 2024. Kasus kematian ibu menurun separuhnya, dari 11 kasus pada 2024 menjadi 5 kasus hingga November 2025.
Kasus TBC juga terkendali. Dari target 2.411 penderita, 1.566 kasus berhasil ditemukan (65 persen), dengan tingkat pengobatan mencapai 96 persen. Sementara itu, RSUD KRT Setjonegoro kini berstatus rumah sakit tipe B dan mengembangkan layanan unggulan seperti jantung dan stroke.
Sepanjang 2025, Dinas Kesehatan meluncurkan 86 inovasi pelayanan publik, termasuk program penanganan stunting yang meraih Adinkes Award 2025 kategori Praktik Baik Pengendalian Stunting.
Jaelan menegaskan, tantangan utama kini bukan hanya kapasitas layanan, tetapi perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam mengurangi kebiasaan merokok.
"Kita sering membuat diri sakit tanpa sadar. Karena itu, pola hidup sehat harus digiatkan," katanya.
Peringatan Hari Kesehatan Nasional 2025 di Wonosobo mengusung tema 'Generasi Sehat, Masa Depan Hebat'. Tema tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan hari ini menentukan kualitas hidup dan pembangunan manusia di masa depan.