PURWOREJO — PURWOREJO - Nama sebuah pasar tradisional di Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, belakangan menyita perhatian warganet. Namanya yang terdengar nyeleneh, Pasar Kentu, memancing beragam reaksi.
Namun di balik nama yang sekilas mengundang tawa itu, tersembunyi kisah budaya dan sejarah lokal yang kuat. Pasar Kentu berada di Desa Kalikotes, sekitar 3 kilometer dari pusat Kecamatan Pituruh dan 26 kilometer dari pusat Kabupaten Purworejo.
Pasar ini bukanlah pasar besar. Namun, keberadaannya telah menyatu erat dengan denyut kehidupan warga sekitar sejak era 1980-an. Nama 'Kentu' berasal dari pengucapan lisan masyarakat terhadap frasa dalam bahasa Jawa 'ken tuku', yang berarti 'disuruh membeli'.
Dalam percakapan sehari-hari, ungkapan itu sering dipendekkan menjadi 'kentu', dan lama-kelamaan melekat sebagai nama pasar. Meski terdengar lucu bagi sebagian orang, nama tersebut mencerminkan karakter lisan masyarakat Jawa yang kerap menyingkat ucapan secara spontan dan bersahaja.
Hal ini menjadikan Pasar Kentu bukan sekadar tempat bertransaksi, tapi juga cermin budaya lokal. Setiap hari Selasa dan Jumat pagi, sejak pukul 04.30 hingga 08.00 WIB, Pasar Kentu dipadati aktivitas warga.
Mereka datang untuk membeli aneka kebutuhan pokok seperti sayuran segar, tempe, bumbu dapur, hingga jajanan tradisional. Namun lebih dari itu, pasar ini menjadi ruang interaksi sosial yang kian langka di era digital.
"Pasar Kentu bukan hanya tempat belanja, tapi juga tempat bertemu kawan dan berbagi cerita," Kata salah satu pemuda Desa Kalikotes, Kecamatan Pituruh, Isnan Fauzi.
Di tengah hiruk-pikuk pagi, obrolan ringan hingga guyonan khas warga desa kerap terdengar. Suasana kekeluargaan menjadi salah satu daya tarik yang membuat banyak warga memilih belanja langsung ke pasar daripada ke toko modern.
Pada tahun 2018, Pasar Kentu sempat direlokasi ke lokasi yang lebih aman. Sebelumnya, pasar ini berada di tikungan jalan yang rawan kecelakaan lalu lintas. Pemerintah desa bersama warga bersepakat untuk memindahkannya tanpa menghilangkan fungsi maupun semangat kebersamaan yang telah lama tumbuh.
Relokasi itu membuktikan bahwa Pasar Kentu bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal keselamatan dan keberlanjutan. Warga dengan kesadaran kolektif menunjukkan bahwa kearifan lokal tak hanya bisa dijaga, tapi juga bisa beradaptasi.
Pasar Kentu bukanlah destinasi wisata populer. Ia tidak tercatat dalam direktori pariwisata mainstream. Namun bagi warga Kalikotes dan sekitarnya, pasar ini adalah warisan budaya. Ia hidup, tumbuh, dan terus berdenyut sebagai simbol ekonomi kerakyatan dan ruang sosial masyarakat desa.
Di tengah modernisasi dan digitalisasi yang menggerus ruang publik tradisional, keberadaan pasar seperti Kentu adalah pengingat bahwa identitas lokal dan budaya lisan masih hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
.
.