Wonosobo — Sebuah Festival Layangan Hias digelar di Lapangan Watu Gong, Selomerto, Wonosobo, Minggu (21/9/2025), dengan melibatkan 54 peserta dari berbagai daerah, untuk mendorong aktivitas tradisional dan kurangi penggunaan gadget di kalangan anak muda.
Festival Layangan Hias ini menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun Karang Taruna ke-65 dan diikuti peserta dari Wonosobo, Parakan, Purbalingga, Borobudur, Magelang, hingga Cilacap.
Ketua panitia Festival Layangan Hias, Gunawan Wibisono, mengatakan festival berlangsung di Lapangan Watu Gong, Desa Kalierang, Selomerto, dengan sistem penilaian layangan per kloter berdurasi 15 menit, setiap sesi melibatkan 10–15 layangan diterbangkan bersamaan.
Tujuan dari diadakannya Festival Layangan Hias, salah satunya adalah mengurangi penggunaan gadget di kalangan anak-anak dan remaja yang kerap berujung pada persoalan judi online," ujar Gunawan.
Tujuan Festival Layangan Hias lainnya termasuk memasyarakatkan Karang Taruna di Desa Kalierang dan mengatasi penerbangan liar yang mengganggu pemukiman.
Pantauan lapangan menunjukkan Festival Layangan Hias menampilkan ragam motif layangan, mulai dari karakter Batman, Superman, Barong, sampai One Piece.
Ukuran layangan kecil peserta anak-anak sekitar 50×50 cm, sementara layangan terbesar yang ikut Festival Layangan Hias mencapai 4,5 meter lebar dan 3 meter tinggi.
Kriteria penilaian Festival Layangan Hias meliputi kreativitas bentuk dan motif, ukuran, dan kestabilan terbang. Semakin jauh dan tinggi layangan terbang, semakin tinggi poin yang didapat.
Festival Layangan Hias ini dianggap sebagai ruang alternatif agar anak muda mengurangi aktivitas di depan layar gadget. Selain itu, Festival Layangan Hias membantu mengendalikan layangan liar yang kerap membuat kerusakan pada fasilitas umum seperti pohon, rumah, atau antena.
Gunawan menuturkan bahwa lewat Festival Layangan Hias, aktivitas layangan terkelola, terstruktur, sehingga dampak negatif dari penerbangan layangan liar bisa diminimalisasi.
Festival Layangan Hias di Wonosobo bukan sekadar kompetisi estetika layangan, melainkan usaha nyata mendorong masyarakat terutama anak muda agar kembali ke permainan tradisional, sekaligus mengurangi ketergantungan pada gadget.
Kegiatan Festival Layangan Hias diharapkan menjadi contoh kegiatan sosial budaya yang mampu memperkuat rasa komunitas dan budaya lokal, sekaligus membangun kebiasaan positif dalam penggunaan waktu luang.