Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Krisis Lingkungan Meningkat, Kemenag Wonosobo Serukan Santri Miliki Kesadaran Eco-Theologi

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo
H. Panut

Wonosobo — Di tengah meningkatnya kerusakan lingkungan yang melanda berbagai wilayah Indonesia, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Wonosobo, H. Panut menegaskan pentingnya peran santri dalam membangun kesadaran ekologis melalui pendekatan eco-theologi.


Menurutnya, keterlibatan aktif santri dalam merawat alam merupakan bagian dari pelaksanaan iman dan tanggung jawab spiritual dalam ajaran Islam.


"Santri masa kini tidak cukup hanya menguasai ilmu keagamaan, tetapi juga harus peka terhadap isu-isu lingkungan. Mereka harus bisa mengimplementasikan perilaku sadar lingkungan melalui ilmu yang mereka dapatkan di pesantren," kata Panut, Senin (18/08/2025).


Eco-theologi, menurut Panut, merupakan pendekatan teologis yang mengintegrasikan ajaran agama dengan kepedulian lingkungan dan kelestarian alam. Dalam konteks Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi yang memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga ciptaan Tuhan.


"Konsep ini menekankan bahwa menjaga dan merawat alam bukan hanya aktivitas sosial atau ekonomi, tapi juga bagian dari ibadah. Kesadaran terhadap lingkungan adalah wujud iman," tegas Panut.


Ia menambahkan, kesadaran semacam ini tidak hanya berlaku selama para santri berada di lingkungan pondok pesantren, melainkan juga harus dibawa ke lingkungan tempat tinggal mereka.


Panut merinci beberapa prinsip dasar eco-theologi yang menurutnya sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh para santri dan masyarakat umum, diantaranya adalah keterhubungan semua makhluk hidup, yang saling mempengaruhi satu sama lain dalam ekosistem.

Kemudian prinsip kesederhanaan, yaitu hidup secukupnya dan tidak mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan serta prinsip keadilan dan kesetaraan ekologis, di mana pemanfaatan sumber daya harus mempertimbangkan kelangsungan generasi mendatang.


"Kalau alam terus dieksploitasi, tanpa dijaga, alam bisa rusak. Bahkan bisa 'murka'. Ini bukan sekadar pernyataan simbolik, tapi sudah kita rasakan dampaknya dalam bentuk bencana, kekeringan, dan krisis iklim," ujar Panut, yang juga pernah menjadi pengurus LP Ma’arif NU Wonosobo.


Panut menekankan, pesantren dan santri memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga alam. Pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga tempat menanamkan nilai tanggung jawab sosial dan ekologis.


"Tujuan syariat Islam bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga untuk menjaga kehidupan termasuk alam. Santri bisa menjadi garda depan dalam membangun masyarakat yang sadar lingkungan," katanya.


Ia juga menyebut bahwa pendekatan eco-theologi sangat efektif dalam mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan dan adil secara ekologis.


"Santri yang paham eco-theologi akan lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya, lebih adil terhadap sesama, dan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup," tutup Panut.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube