Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Keluarga Siswa SD Wonosobo Meninggal Tuntut Keadilan, Diduga Dipukul Teman Sekolah

Orang tua siswa SD di Wonosobo yang meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan teman sekolah.

Wonosobo — Keluarga siswa SD yang meninggal diduga akibat bullying temannya di sekolah menuntut keadilan. Keluarga korban berharap peristiwa serupa tidak terulang lagi. Seorang siswa kelas 3 SD di Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, berusia 9 tahun, meninggal dunia usai diduga menjadi korban pemukulan oleh teman sekolahnya saat upacara di sekolah.


"Sekarang saya hanya ingin keadilan untuk anak saya. Jangan sampai ada anak lain yang mengalami nasib seperti dia," ujar Ayah korban, Dedi Hendi Kurnia kepada wartawan.


Korban yang diketahui berinisial TA tersebut merupakan anak ketiga dari pasangan suami istri warga Desa Jambusari, Kecamatan Kertek. Korban sebelumnya sempat mengeluh sakit di perut dan sesak di dada setelah insiden diduga pemukulan tersebut.


Dedi mengungkap, bahwa anaknya mulai menunjukkan perubahan sikap sejak duduk di kelas 3 SD.


Dedi menceritakan, ia mendapat kabar anaknya sakit pada 1 atau 2 Oktober. Kondisi anaknya memburuk hingga akhirnya dibawa ke RS PKU Wonosobo pada Sabtu (4/10). Di sana, korban mengaku langsung kepada ayahnya bahwa ia dipukul teman sekelas di bagian perut saat upacara.


Menurut Dedi, terdapat saksi yang melihat korban pingsan setelah dipukul. Saat pemeriksaan, dokter meminta surat persetujuan untuk perawatan di ruang ICU setelah keluarga menyampaikan kronologi kepada tenaga medis.

"Saat dirawat, sempat disedot cairan dari tubuhnya dan keluar sekitar dua liter cairan berwarna merah," jelas Dedi.


Meski keluarga menyampaikan kronologi kejadian, Dedi mengaku mendengar kabar dari sekolah bahwa anaknya disebut menderita penyakit paru-paru basah. Ia membantah pernyataan tersebut.


"Bagaimana mungkin disebut paru-paru basah, cairannya saja merah," tegasnya.


Pihak sekolah, menurut Dedi, mengaku tidak mengetahui adanya insiden pemukulan. Sebelum meninggal, korban sempat menyampaikan keinginannya untuk pindah sekolah kepada keluarganya.


Kasatreskrim Polres Wonosobo, AKP Arif Kristiawan, membenarkan bahwa kasus siswa SD Wonosobo meninggal ini masih dalam tahap penyelidikan.


"Kami terus mendalami penyebab pasti kematian korban. Kendalanya, pihak keluarga menolak dilakukan otopsi,” kata Arif.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube