PURWOREJO — Penanganan sampah di Purworejo masih menghadapi tantangan serius. Data resmi menunjukkan, dari total 117.937 ton timbulan sampah per tahun, baru sekitar 58 ribu ton atau sekitar 49 persen yang berhasil dikelola. Kondisi ini mendorong Pemerintah Kabupaten Purworejo untuk mengambil langkah intervensi strategis di sektor persampahan dan sanitasi.
Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setiabudi menyatakan, bahwa persoalan penanganan sampah di Purworejo sudah masuk kategori mendesak dan harus ditangani dengan pendekatan jangka pendek maupun jangka panjang.
"Ketika itu menjadi permasalahan, dampaknya bagi kehidupan sehari-hari itu besar," ujar Dion.
Keterbatasan fasilitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan layanan pengangkutan sampah menjadi hambatan utama dalam penanganan sampah di Purworejo.
"Selain itu, problem utamanya bukan hanya di TPA. Masyarakat belum memilah sampah dari rumah, sehingga yang sampai ke TPA tidak bisa langsung diolah," jelas Dion.
Langkah intervensi yang disiapkan Pemkab Purworejo dalam penanganan sampah mencakup optimalisasi pelayanan, penguatan TPS3R, dan pelibatan aktif masyarakat.
Dion menegaskan bahwa pemilahan sampah dari rumah tangga menjadi salah satu kunci utama agar sampah bisa diolah secara optimal.
Dalam jangka panjang, Pemerintah Kabupaten juga akan mendorong potensi ekonomi dari hasil pengolahan sampah agar memberikan insentif langsung kepada masyarakat.
"Kami harapkan pengolahan sampah bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat, sehingga ada motivasi lebih untuk memilah dan mengelola sampah dari awal," lanjutnya.
Selain itu, program lain yang akan dijalankan termasuk revitalisasi sarana pengelolaan sampah, sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta penerapan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
Meskipun upaya intervensi telah disiapkan, tantangan dalam penanganan sampah di Purworejo masih kompleks. Selain aspek teknis seperti armada dan fasilitas, perubahan perilaku masyarakat menjadi tantangan besar yang perlu ditangani melalui edukasi berkelanjutan.
Ketua Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan Permukiman (Pokja PKP) Kabupaten Purworejo, Hery Raharjo mengungkapkan, bahwa TPA Jetis Loano saat ini sudah dalam kondisi overload.
Layanan pengangkutan sampah juga belum menjangkau seluruh wilayah kabupaten. Saat ini, cakupannya hanya sekitar 30 hingga 40 persen, dengan fokus pada wilayah perkotaan dan kawasan pasar.
Hal ini disebabkan oleh keterbatasan armada, tidak efisiennya rute layanan, serta minimnya fasilitas TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) di desa-desa.