PURWOREJO — Peringatan Hari Santri Nasional 2025 di Purworejo diawali dengan refleksi tentang makna dan posisi santri dalam kehidupan masyarakat modern.
Dalam acara Spesial Talkshow Hari Santri Nasional 2025 yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Purworejo dan disiarkan melalui Irama FM 88.5, Ketua Tanfidziyah PCNU Purworejo, KH Muhammad Haekal, menekankan bahwa istilah 'santri' kini memiliki makna yang lebih inklusif dan kontekstual.
Dalam penjelasannya, KH Haekal menyatakan bahwa istilah santri tidak hanya melekat pada mereka yang menempuh pendidikan formal di pondok pesantren, tetapi juga mencakup masyarakat yang berkomitmen mencari ilmu agama dan beribadah secara konsisten di luar pesantren.
"Santri tentu tidak hanya yang di pesantren, juga yang di langgar atau mushola. Semua yang memiliki niat belajar dan beribadah lebih baik itu bisa dianggap santri," ujar KH Haekal dalam talkshow peringatan Hari Santri Nasional 2025 di Purworejo.
Pandangan ini memperluas definisi santri menjadi identitas moral dan spiritual, bukan semata identitas kelembagaan. Menurutnya, inti dari kesantrian adalah niat memperbaiki diri melalui pengetahuan agama dan pengamalan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
KH Haekal juga mengaitkan makna kesantrian dengan kontribusi terhadap organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Ia merujuk pada dawuh (pesan) pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, yang menyatakan bahwa siapa pun yang berjuang mengurusi NU akan dianggap sebagai santri beliau.
"Seperti dawuh Kiai Hasyim Asy'ari: siapa yang mau ngurusi NU, aku anggap sebagai santriku dan aku doakan khusnul khotimah. Maka dengan mengurusi NU pun bisa dianggap sebagai santri meski dalam peran yang berbeda," jelasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa berkhidmat di NU, baik di tingkat pusat maupun ranting, termasuk dalam bentuk kesantrian sosial. Artinya, pengabdian kepada umat dan organisasi menjadi bagian dari tradisi spiritual yang diwariskan para ulama pesantren.
Acara Hari Santri Nasional 2025 di Purworejo menjadi ajang peneguhan kembali nilai-nilai keislaman dan kebangsaan yang melekat pada peran santri dalam sejarah Indonesia. Melalui diskusi tersebut, PCNU Purworejo ingin menumbuhkan kembali semangat khidmat, kemandirian, serta tanggung jawab moral santri terhadap masyarakat.
"Hari Santri tidak semata peringatan seremonial, tetapi momentum untuk memperkuat keimanan, keikhlasan, dan kesadaran berkhidmat bagi umat dan bangsa," tegasnya.
Kegiatan talkshow ini merupakan bagian dari rangkaian agenda resmi PCNU Purworejo dalam memperingati Hari Santri Nasional 2025 di Purworejo, yang terdiri dari kajian tematik, lomba keagamaan, serta doa bersama lintas pesantren di wilayah kabupaten.