Wonosobo — Angka stunting di Wonosobo masih bertahan di level 23,9 persen per 2024. Pemerintah Kabupaten Wonosobo kini menyiapkan strategi baru berbasis data lokal untuk mempercepat penurunan masalah gizi kronis tersebut.
Dalam Rapat Koordinasi Percepatan Penanganan Stunting di Setda Wonosobo, Kepala Bappeda Kabupaten Wonosobo, Tono Prihartono, menyebut capaian itu masih tergolong tinggi dan menjadi pekerjaan besar bagi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).
"Angka kita masih cukup tinggi, dan ini PR besar bagi kami di TPPS," ujar Tono.
Berdasarkan hasil evaluasi, beberapa program sebelumnya belum berjalan maksimal. Pemerintah Wonosobo kini beralih pada pendekatan intervensi spesifik berbasis data, dengan pemetaan hingga tingkat rukun tetangga. Setiap langkah intervensi akan disesuaikan dengan kondisi sosial dan ekonomi wilayah setempat.
Menurut Tono, persoalan angka stunting di Wonosobo tidak bisa dilihat dari sisi gizi semata. Faktor ekonomi, pola asuh, serta keterlibatan keluarga menjadi bagian penting yang menentukan keberhasilan penurunan prevalensi stunting.
Penelitian singkat dari Universitas Indonesia (UI) dan BRIN di beberapa desa menunjukkan akar masalah serius, seperti minimnya peran ayah dalam pengasuhan anak. Hasil riset itu menemukan peran ayah sering kali pasif, bahkan absen dalam proses perawatan dan pemberian gizi anak.
"Ternyata dalam riset itu, peran ayah ini masih minim. Nanti akan kita dorong kampanye bagaimana ayah juga punya peran dalam cegah stunting," kata Tono.
Dalam rapat tersebut, TPPS menetapkan lima penekanan program utama untuk menurunkan angka stunting di Wonosobo, yaitu peningkatan edukasi dan komunikasi untuk perubahan perilaku, pendorongan keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan, penguatan koordinasi lintas sektor antar perangkat daerah, optimalisasi peran TPPS hingga tingkat desa dan perencanaan berbasis data untuk intervensi tepat sasaran.
Empat pilar tindak lanjut meliputi Kampanye Ayah Peduli Gizi Keluarga, pemetaan strategis penggunaan dana desa dan CSR untuk pemberian makanan tambahan (PMT), penyusunan RAB sektoral di tingkat desa, serta perluasan media edukasi masyarakat. Menurut Tono, arah kebijakan tersebut sejalan dengan misi pemerintah pusat.
"Ada kesesuaian antara misi pusat dan daerah. Jadi langkah kita memang sudah searah," ujarnya.
Kepala DPPKBPPPA Wonosobo, Dyah Retno S, menambahkan, fenomena 'fatherless' atau kurangnya figur ayah dalam pengasuhan anak kini menjadi perhatian serius. Untuk itu, Wonosobo mengembangkan program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) sebagai strategi perubahan sosial di tingkat keluarga.
"Melalui GATI, kami ingin mendorong keterlibatan aktif ayah, calon ayah, dan remaja demi menciptakan generasi berkualitas yang berkarakter dan tangguh," kata Dyah.
Program GATI telah menyentuh 16.683 penerima manfaat, jauh melampaui target awal 7.456 sasaran. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai organisasi masyarakat, seperti GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, Forum GENRE, hingga komunitas lintas agama.
Selain GATI, Pemkab juga menjalankan gerakan GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang berfokus pada intervensi sensitif di masyarakat.
Dyah menegaskan, keberhasilan menurunkan angka stunting di Wonosobo memerlukan kolaborasi kolektif.
"Kami mengajak semua pihak berkolaborasi menuju Indonesia bebas stunting, terutama agar Wonosobo menuju target Zero Stunting," ujarnya.