Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Tren Tepuk Sakinah Viral di Media Sosial, Ini Penjelasan KUA

Tepuk Sakinah menjadi viral di media sosial melalui berbagai video peragaan yang menarik perhatian pengguna internet, terutama di kalangan anak muda.


Banyak yang mengikuti tren ini, bahkan menjadikannya sebagai konten hiburan yang memicu komentar lucu. Namun, sebenarnya Tepuk Sakinah memiliki tujuan edukatif bagi calon pengantin.


Muhammad Agung Ilham, penghulu sekaligus fasilitator Bimbingan Perkawinan (Bimwin) KUA Tanjungbumi, Bangkalan, menjelaskan bahwa Tepuk Sakinah merupakan bagian dari kegiatan Bimwin yang harus diikuti oleh calon pengantin sesuai dengan PMA Nomor 30 Tahun 2024.


"Kegiatan ini dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti mandiri, klasikal, atau virtual, sebagaimana diatur dalam SE Dirjen Bimas Islam No 1 Tahun 2025 mengenai Bimbingan Perkawinan," ujarnya mengutip NU Online Jatim, pada hari Minggu (28/09/2025).


Ia menambahkan, untuk metode klasikal, pelaksanaannya dilakukan secara offline dengan melibatkan banyak calon pengantin. Kegiatan ini biasanya berlangsung selama dua hari dengan berbagai materi.


"Karena durasi yang cukup lama dan materi yang disampaikan cukup padat, calon pengantin sering kali merasa bosan. Oleh karena itu, kami menyisipkan ice breaking berupa Tepuk Sakinah," jelasnya.

Ia menambahkan, lirik dalam tepuk Sakinah selaras dengan empat pilar perkawinan sehat yang tercantum dalam buku Fondasi Keluarga Sakinah terbitan Subdit Bina Keluarga Sakinah, Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI.


"Melalui metode ini, diharapkan calon pengantin lebih mudah mengingat materi yang disampaikan," ungkap Agung.


Dirinya menuturkan, Kementerian Agama (Kemenag) telah membentuk tim ahli untuk menyusun buku materi yang dipakai fasilitator KUA di seluruh Indonesia. Buku itu digunakan setelah mereka menyelesaikan diklat.


Menurutnya, tidak semua calon pengantin bisa langsung mengingat empat pilar pernikahan dalam buku itu. Sebab itu, akhirnya dibuatlah Tepuk Sakinah agar calon pengantin lebih mudah mengingat dan menghafalkan.


“Meski mirip nyanyian anak-anak, tujuannya untuk memudahkan hafalan. Kalau ada yang menilai kurang pantas, mungkin karena hanya melihat lagunya tanpa memahami konteksnya,” pungkasnya.