TEGAL — Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sedang melakukan penyelidikan terkait aktivitas penerbangan paralayang yang diduga berlangsung di salah satu titik dalam area taman nasional tersebut.
"Kami sedang mengumpulkan informasinya," ungkap Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS, Septi Eka Wardhani, mengutip ANTARA pada hari Jumat (12/9).
Ia juga mengimbau kepada masyarakat yang memiliki informasi mengenai penerbangan paralayang yang terekam dalam video yang diunggah oleh akun media sosial Instagram, untuk segera melaporkannya kepada pihak Balai Besar TNBTS.
Balai Besar TNBTS sangat menyayangkan adanya aktivitas tersebut, karena penerbangan paralayang dilarang di dalam kawasan taman nasional ini.
"Kami tidak memberikan izin, terutama karena kawasan Bromo adalah wilayah yang sakral bagi masyarakat Tengger," tambahnya.
Aktivitas penerbangan paralayang di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terungkap melalui sebuah video berdurasi 25 detik yang diunggah oleh salah satu akun di media sosial Instagram.
Dalam video tersebut, terlihat paralayang dengan parasut utama berwarna oranye diterbangkan oleh seorang paraglider yang mengenakan pakaian dan helm berwarna putih.
Paraglider itu menerbangkan paralayangnya menuju arah Gunung Bathok, yang terletak tepat di sebelah Gunung Bromo dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Aktivitas paralayang sontak mengundang ketertarikan dari sejumlah orang yang berada di dekat paraglider berbaju putih.
Beberapa orang dari mereka nampak mengabadikan momen tersebut melalui telepon genggam masing-masing.
Di dalam video itu juga terdapat pertanyaan "Nerbangin drone bayar 2 juta, kalau nerbangin diri gini bayar berapa ya?".
Unggahan itu pun turut dilengkapi caption yang juga mempertanyakan kejelasan aturan mengenai aktivitas paralayang di sana. "Gimana tuh," ujar caption di dalam video tersebut.