Jakarta — Aksi Respati Listyatmoko, Dalang Cilik Asal Wonogiri bikin penonton terpingkal di Festival Dalang Anak Nasional 2025. Respati Listyatmoko, dalang cilik asal Kabupaten Wonogiri yang sukses mencuri perhatian dalam Festival Dalang Anak (FDA) Nasional 2025.
Tawa dan tepuk tangan riuh menggema di Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Di atas panggung megah itu, seorang bocah berusia 13 tahun tampil percaya diri membawakan lakon Prabakusuma Labuh dengan gaya pewayangan khas Surakarta.
Respati menjadi penampil pertama mewakili Jawa Tengah yang tampil di kelompok B. Dimana sebelumnya dalang cilik asal DKI Jakarta dan Lampung juga menunjukan kebolehannya didepan para juri pada ajang bergengsi yang digelar oleh Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) ini.
Gayanya yang jenaka, spontan, dan penuh improvisasi membuat penonton tak henti-hentinya tertawa. Siapa sangka bembawaannya yang humoris ini ternyata menurun dari ayahnya, Ki Bagong Yunioko (40), seorang dalang yang juga aktif melestarikan seni pedalangan di Wonogiri. Namun, perjalanan Respati menjadi dalang cilik tidak selalu mulus. Ia sempat menolak meneruskan jejak sang ayah.
“Dulu saya kayak meniru sabetan bapak, tapi selalu gagal. Bapak sampai bilang ‘Ora usah dadi dalang’. Akhirnya saya ngambek, enggak mau main wayang lagi,” cerita Respati sambil tertawa.
Namun, seiring waktu, rasa cintanya terhadap dunia wayang tumbuh kembali. Dukungan keluarga dan lingkungan membuatnya kembali bersemangat untuk menekuni seni pewayangan.
“Sekarang saya suka banget dalang. Tiap hari latihan, kadang libur kalau capek,” tambahnya.
Dalam lakon Prabakusuma Labuh, Respati membawakan kisah tentang pertanian dan tokoh Batari Sri dengan sentuhan humor khas anak muda.
Adegan paling mencuri perhatian adalah ketika ia menggambarkan para rewang Batari Sri sebagai makhluk “hantu baik” yang berbentuk mustika tanaman ada yang seperti singkong, duku, hingga melon.
Meski masih duduk di bangku kelas 2 SMP, prestasi Respati cukup mengagumkan. Ia sudah beberapa kali menyabet penghargaan dalam berbagai ajang pedalangan.
“Tahun 2022 saya juara tiga, 2023 juara satu, dan tahun ini juara satu tingkat kabupaten, lalu juara dua tingkat provinsi,” ungkapnya dengan bangga.
Kini, di ajang nasional, ia membawa semangat besar untuk mengharumkan nama Jawa Tengah. “Optimis bisa tampil bagus. Yang penting tampil maksimal,” katanya.
Sebelum meninggalkan panggung, Respati menyampaikan pesan sederhana untuk generasi muda namun bermakna dalam bahasa Jawa.
“Piye ben iso mencintai budaya, iso mencintai wayang, belajar lah budaya Jawa supaya budaya Jawa ora dipek bangsa liya.” (Bagaimana supaya bisa mencintai budaya, mencintai wayang, belajar lah budaya Jawa agar budaya kita tidak diambil bangsa lain).
Ki Bagong Yunioko mengakui bahwa mendidik anak di era digital tidak mudah. Godaan gawai dan game sering membuat anak-anak kehilangan fokus. Namun, ia punya cara unik untuk menumbuhkan kedisiplinan.
“Ya kadang dibully sedikit biar semangat. Tapi bukan marah, lebih ke motivasi. Saya ingin dia belajar konsisten,” tutur Ki Bagong sambil tersenyum.
FDA Nasional 2025 diikuti 28 dalang cilik dari 9 provinsi, antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Lampung, DIY, Jambi, NTB, dan Jawa Tengah. Dari Jateng sendiri, ada lima perwakilan yang tampil:
- Danendra Dananjaya Djuanda (Kategori A, Kota Semarang)
- Kenzie Lintang Trenggono (Kategori A, Kabupaten Semarang)
- Respati Listyatmoko (Kategori B, Wonogiri)
- Syafathur Dwi Aprian (Kategori B, Cilacap)
- Muhammad Amin Al Basri (Kategori B, Rembang)
Sekretaris Pepadi Jateng, Bambang Sulanjari, menyampaikan bahwa persiapan para peserta dilakukan dengan matang sejak seleksi tingkat korwil hingga provinsi.
“Kami ingin anak-anak tampil percaya diri dan membawa nama baik Jawa Tengah,” ujarnya.
Meski tidak ingin terlalu menargetkan juara, Bambang optimistis bahwa Jawa Tengah punya peluang besar. “Melihat potensi anak-anak ini, saya yakin mereka bisa tampil maksimal dan membanggakan,” pungkasnya.