Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Hilda Christina dan Kelvin Saweri, Dua Generasi Satu Semangat dari Bumi Papua

Kelvin dan Hilda sukses mengharumkan nama Bumi Papua di PON Bela Diri 2025. (ponbeladiri)

KUDUSKecemasan menyelimuti Kelvin Saweri saat bersiap memulai laga final shorinji kempo nomor randori perorangan kelas 75 kg pada PON Bela Diri Kudus 2025.


Wajar saja, sebab lawan yang dihadapi atlet asal Kontingen Papua Barat ini merupakan atlet tangguh dari Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni Donatus Fios.


Namun setelah melalui pertarungan sengit dan penuh tekanan di Djarum Arena Kaliputu Kudus, kerja keras Kelvin akhirnya terbayar tuntas. Ia pun berhasil meraih medali emas yang menggantung di lehernya.


"Saya sangat cemas sejak babak awal, tapi saya bangkit lagi. Di pertandingan berikutnya, saya bisa menang lawan Jateng, " ujar Kelvin saat sesi konfrensi pers di Media Center Djarum Arena Kudus.


Kecemasan sang jawara dari Bumi Papua ini pun muncul kembali saat ia melakoni laga final. Namun ia bisa mengalahkan pemain yang terbilang hebat dan berprestasi dari NTT.


"Saya senang sekali bisa kalahkan dia. Kita sama-sama orang Timur, punya ciri khas yang keras dan punya jiwa yang kuat," jelas Kelvin.


Medali emas yang diraih Kelvin menjadi capaian bersejarah sekaligus emas pertama bagi tim shorinji kempo Papua Barat pada ajang multi-cabang itu.


Sedangkan satu medali lainnya bagi tim Bumi Papua, disumbangkan oleh Hilda Christina Blandina. Srikandi Kempo Papua Barat ini meraih keping perunggu di nomor randori putri kelas 55 kg.


Bagi Hilda, medali tersebut memiliki makna khusus karena menjadi persembahan terakhirnya bagi Papua Barat.


Sekembalinya dari Kudus, perempuan yang sehari-hari bertugas di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Papua Barat itu, pensiun sebagai atlet shorinji kempo.


Sesudah prosesi penyerahan medali di Djarum Arena, Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (21/10) petang, Kelvin dan Hilda berkesempatan bertemu dengan sejumlah wartawan.


Dua atlet yang mewakili generasi berbeda dalam tim shorinji kempo Papua Barat itu berbagi kisah tentang perjuangan mereka di arena pertandingan. Selain itu, membagikan pengalaman menarik selama berada di Kudus.


Hilda mengaku telah menekuni sebagai atlet shorinji kempo lebih dari 20 tahun. Raihan medali yang didapatkan dari gelanggang Arena PON Bela Diri Kudus 2025 ini menjadi medali yang terakhir.


"Saya ucapkan puji Tuhan. Terima kasih kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Saya sudah lebih dari 20 tahun, kurang lebih. Ini medali terakhir saya di PON Bela Diri," terang Hilda.


Hilda mulai terjun di cabor olahraga bela diri saat ia berumur kurang lebih 12 tahun. Kariernya sebagai atlet pun dipungkasi dengan cantik dengan perolehan medali perunggu di PON Bela Diri Kudus.


"Ini akhir dari karier saya sebagai seorang atlet, setelah ini saya pensiun. Saya bangga bisa sampai di tahap ini. Karena persiapan dan latihan, kami persiapannya kurang lebih tiga bulan," ucap Hilda.


Sebelum berangkat bertarung di PON Bela Diri 2025 di Kudus, Hilda mempersiapkan diri dengan latihan mandiri. Selanjutnya ia bergabung dengan tim Papua Barat kurang lebih dua minggu.


Ia tidak menyangka rangkaian perjuangannya hingga mendapatkan medali perunggu. Dengan segala usaha kerasnya, akhirnya ia masih bisa memberikan yang terbaik meskipun hanya medali perunggu.


Usai memutuskan pensiun sebagai atlet, Hilda memilih menjadi asisten pelatih Shorinji kempo bagi pembinaan usia dini. Ada sejumlah pertimbangan Hilda memilih pensiun usai PON Bela Diri Kudus 2025 ini, karena alasan faktor usia.


"Karena usia saya sudah 35 tahun dan saya atlet paling senior. Suatu kebanggaan pribadi di umurnya segini, saya masih memberikan yang terbaik untuk Papua Barat, pada khususnya. Dan menjadi motivasi buat adik-adik saya bahwa umur boleh tua, tapi semangat tetap harus jiwa muda, " terang Hilda. 

Bertolak dari Papua Gapai Juara

Hilda memutuskan pensiun sebagai atlet usai bertanding di PON Bela Diri Kudus. (Ponbeladiri)

Kelvin dan Hilda juga menceritakan perjalanan panjang dari Papua ke Jawa. Mereka terbang dari Sorong kemudian transit di Makassar hingga menuju Jakarta.


"Dari Jakarta terus Semarang. Baru dari Semarang dengan bus kita ke sini. Jadi perjalanan cukup jauh. Tapi kami di sana sudah biasa seperti begitu. Bukan apa tapi kami biasa jalan kaki juga, kami sudah terbiasa, " papar Kelvin.


Selama berada di Kudus, Kelvin dan tim mengaku menyewa sebuah rumah di Desa Ploso, Kecamatan Jati Kudus. Kehadiran mereka diterima dengan baik oleh warga Ploso.


Hilda juga mengaku terkesan dengan fasilitas dan pelayanan terbaik yang diberikan Djarum. Ia menyebut PON Bela Diri 2025 di Kudus merupakan event yang luar biasa.


"Apalagi ini pertama kali dan terakhir bagi saya bertanding untuk PON Bela Diri. Luar biasa masyarakatnya antusias juga mendukung kegiatan ini, semoga Kudus tetap menjalankan event ini. Tidak sampai di sini saja, tetap berkelanjutan, " tandas Hilda. 

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube