TEGAL — Baru-baru ini cucu Bung Hatta Gustika Jusuf menjadi sorotan banyak publik. Hal ini dikarenakan unggahannya yang menyindir pejabat.
Di tengah perayaan kemerdekaan, cucu Bung Hatta hadir di Istana Negara. Namun bukan hanya menarik perhatian karena penampilannya, tetapi juga karena pesan tajam yang dia sampaikan.
Khususnya terkait kondisi Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Cucu Bung Hatta juga menyampaikan arti dari kebaya yang ia pakai, dalam unggahannya twrsebut.
Nah berikut ini akan kami ulas secara lengkap mengenai unggahan dari cucu Bung Hatta yang menjadi sorotan publik. Yuk simak terus ulasannya dibawah ini.
Pesan di balik pakaian berkabung
Dalam sebuah unggahan di media sosial, cucu Bung Hatta menjelaskan bahwa kehadirannya di Istana dengan pakaian batik yang ia sebut sebagai "simbol duka" adalah bentuk keprihatinan mendalamnya terhadap kondisi bangsa. Ia merasa dukanya lahir dari cinta yang mendalam pada Republik ini, dan baginya, berkabung tidak berarti putus asa.
Pesan ini menjadi sorotan karena ia hadir di acara yang seharusnya penuh suka cita, yaitu perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 RI. Namun, cucu Bung Hatta memilih untuk menunjukkan sikap kritisnya.
Yakni mengisyaratkan bahwa di balik gemerlap perayaan, ada masalah-masalah serius yang tidak boleh dilupakan.
Kritik tajam untuk Menteri HAM
Puncak dari kritik Gustika Jusuf adalah sindiran kerasnya terhadap Menteri HAM, Natalius Pigai. Dalam sebuah video yang ia unggah, Gustika menampilkan cuplikan Pigai yang terlihat berjoget, lalu mengkritik habis-habisan sikap tersebut.
Gustika mempertanyakan bagaimana seorang Menteri HAM bisa terlihat santai dan berjoget di tengah penderitaan rakyat, dengan menyebutnya sebagai "penjilat rezim."
Sindiran ini langsung mendapat reaksi beragam dari publik. Sebagian mendukung keberaniannya, sementara yang lain menganggapnya terlalu frontal.
Kritik Gustika tidak hanya berhenti pada video tersebut. Ia juga menyinggung peristiwa-peristiwa kekerasan yang baru-baru ini terjadi di berbagai daerah, seperti di Pati.
Menurutnya, tragedi-tragedi tersebut adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan HAM yang seharusnya dijunjung tinggi oleh negara.
Warisan perjuangan Bung Hatta
Sikap kritis cucu Bung Hatta ini bisa dilihat sebagai warisan dari pemikiran kakeknya, Mohammad Hatta. Bung Hatta dikenal sebagai sosok yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan sosial.
Dalam berbagai pemikirannya, Bung Hatta selalu menekankan pentingnya kedaulatan rakyat dan perlindungan hak-hak dasar individu.
Dengan demikian, keberanian Gustika untuk menyuarakan kritik terhadap pemerintah, terutama terkait isu HAM, bukanlah hal yang aneh. Ia seolah melanjutkan estafet perjuangan kakeknya, menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan para pendiri bangsa tidak boleh pudar.
Aksi yang dilakukan cucu Bung Hatta ini mengingatkan kita bahwa peran serta masyarakat, terutama generasi muda, sangat penting dalam mengawasi dan mengingatkan jalannya pemerintahan.
Kritik yang konstruktif adalah bagian dari demokrasi yang sehat, dan suara dari cucu seorang proklamator ini menjadi pengingat yang kuat bagi semua pihak. Bahwa pekerjaan untuk mewujudkan keadilan dan HAM di Indonesia masih jauh dari kata selesai.