SRAGEN — Kejadian keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Gemolong menjadi pelajaran berharga. Pengelola dan para karyawan Dapur SPPG Gemolong juga ikut terpukul.
Mereka berharap kejadian serupa tidak terulang dan dilakukan evaluasi untuk mencegah kejadian serupa terulang di Sragen
Penanggung jawab Dapur SPPG Mitra Mandiri BGN, Arifudin Setiawan, akhirnya angkat bicara terkait insiden dugaan keracunan massal yang menimpa 251 siswa dan guru di Gemolong.
Ia menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya atas musibah tersebut dan mengakui kemungkinan adanya keteledoran dari pihaknya.
Selain itu, pihaknya juga siap menanggung biaya pasien yang rawat inap. "Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, terutama kepada adik-adik yang terkena musibah dan keluarga mereka," ucap Ari dengan nada penyesalan.
"Ini murni kesalahan saya sebagai pimpinan dan atas nama tim kami. Kami tidak ada niatan sengaja, namun memang mungkin ada keteledoran," Ujarnya Rabu 13 Agustus 2025.
Ari menjelaskan, timnya baru mengetahui menu yang diduga bermasalah adalah nasi kuning, telur suwir, kering tempe, salad timun, buah apel, dan susu kemasan yang didistribusikan pada Senin, 11 Agustus 2025.
Menu tersebut, menurutnya, adalah salah satu menu favorit anak-anak dan sudah sering disajikan.
"Penyebabnya kami belum tahu, apakah di nasi, telur, atau tempe. Sampel sudah dibawa Dinas Kesehatan untuk diuji di laboratorium Semarang," jelasnya.
Insiden ini tidak hanya memukul para korban, tetapi juga tim Dapur SPPG Mitra Mandiri. Ari menyebutkan, moral 50 karyawannya sangat terpukul dan merasa bersalah. "Mereka menyalahkan diri sendiri. Kami butuh waktu untuk menata hati dan kesiapan lagi," ujarnya.
Sesuai arahan Bupati Sragen, operasional dapur untuk 14 sekolah dengan sekitar 3.800 penerima manfaat ini dihentikan selama dua hari.
Namun, Ari memperkirakan penghentian ini akan berlanjut hingga Senin depan. Pihaknya mempertimbangkan kesiapan mental para karyawan.
Dia menuturkan Meski SOP kebersihan dapur telah berjalan 24 jam, mulai dari pemisahan bahan baku, proses memasak, hingga pencucian alat, Arifudin tidak menampik perlunya evaluasi lebih lanjut.
Ia berjanji akan segera memperbaiki sistem jika hasil lab sudah keluar. "Kami akan datang ke sekolah-sekolah untuk klarifikasi dan permintaan maaf," pungkasnya.