Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Tanam Mangrove Cegah Abrasi, Pakar Lingkungan Jateng: Tanggul Laut Solusi Atasi Rob Demak

Keberadaan pemukiman di Desa Timbulsloko Demak tampak seperti mengambang di permukaan air.

DEMAK — Masyarakat yang berada di sepanjang Pantai Utara Jawa Tengah, diharapkan terlibat dalam pengelolaan lingkungan pesisir. Langkah ini sebagai salah satu upaya penanganan abrasi dan banjir rob yang terus menggerus wilayah daratan. 


Selain melibatkan masyarakat peduli lingkungan pesisir, solusi utama dan tercepat mengatasi banjir rob di kawasan Pantura Jawa Tengah yakni pembangunan tanggul laut. (Giant Sea Wall).


Ahli Tata Kota dari Universitas Diponegoro, Prof Dr Ing Wiwandari Handayani ST MT MPS mengatakan, pelibatan masyarakat bisa dilakukan dengan penanaman mangrove dan sektor perikanan berkelanjutan. 


“Hal ini sebagai salah upaya perihal penanganan kawasan pesisir dalam jangka panjang,” ujar Wiwandari yang juga Dosen di Departemen Perencanaan Wilayah dan Perkotaan (PWK) Fakultas Teknik Undip Semarang.


Wiwandari pun mengapresiasi program ‘Mageri Segoro’ yang diinisiasi Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin. Program itu berupa penanaman 1,5 juta mangrove. Luas area penanaman mencapai 150 hektare di sepanjang pantai utara di wilayah Jawa Tengah.


“Program Mageri Segoro itu bertujuan mengembalikan dan menjaga kesehatan ekosistem pesisir yang rusak, akibat abrasi dan perubahan iklim,” terang Wiwandari.


Wiwandari terus mengingatkan bahwa laju perubahan iklim masih terjadi dengan bersamaan pembangunan kota yang juga berlangsung.


“Pemerintah bisa saja ke depan akan kembali kewalahan, jika tidak melibatkan peran masyarakat untuk menjaga lingkungan pesisir,” tukas Wiwandari.


Untuk diketahui, banjir rob yang terjadi di kawasan Sayung Kabupaten Demak, hingga kini masih terus berlangsung. Banjir rob yang terjadi sejak 1990 ini, dapat ditangani cepat hanya dengan pembangunan tanggul laut. 


Saat ini, pengerjaan tanggul rob sedang dikebut pemerintah pusat dan diperkirakan baru rampung pada tahun 2027. Genangan rob tidak hanya menggenangi pemukiman warga pesisir pantai. Namun juga sudah meluap sampai ke jalan raya Pantura Semarang-Demka. 


Bahkan banjir rob kerap terjadi pada siang hari dan kian meninggi pada malam hari. Ketinggian air bisa mencapai 50 centimeter.

 

“Hanya tanggul laut yang bisa menahan naiknya air laut pasang, yang kian berlangsung ekstrem. Hal itu karena dipicu fenomena alam perubahan iklim,” tukas Wiwandari. 


Wiwandari menybut, pembangunan tanggul laut di Semarang-Demak telah dikerjakan pemerintah pusat. Kehadiran tanggul laut terintegrasi dengan tol laut yang direncanakan baru rampung pada tahun 2027.

 

“Pembangunan tanggul laut ini penting dan menjadi salah satu strategi dalam penanganan rob di Pantura. Tapi masyarakat tidak bisa serta merta langsung berharap manfaatnya sekarang, karena proses pembangunan masih berjalan,” ungkap Wiwandari.

 

Di tengah menunggu pengerjaan tanggul laut selesai, Pemerintah Provinsi Jateng melakukan berbagai langkah penanganan, yakni pompanisasi di sejumlah titik pusat genangan, hingga di tengah pemukiman warga. 

Ahli Tata Kota dari Undip Prof Dr Ing Wiwandari Handayani minta masyarakat dilibatkan pengelolaan pesisir.

Selain itu, pemprov juga melakukan pengerukan pendangkalan sungai, normalisasi sungai, hingga drainase. Bahkan, warga terdampak banjir rob diberikan bantuan cuma-cuma. Di antaranya berupa pelayanan Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG), bantuan sembako, dan alat tulis sekolah.

 

Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1 (Semarang-Sayung) sepanjang 10,634 km, yang terintegrasi dengan pembangunan giant sea wall (tanggul laut). Pembangunan jalan tol sepanjang 10,634 km ini, diestimasikan akan mengeringkan lahan seluas 576,04 hektare.

 

Pekerjaan fisik jalan tol, juga dibangun dengan konstruksi khusus tanggul laut (giant sea wall). Selain itu, ada Kolam Retensi Terboyo dan Sriwulan, yang digunakan untuk menampung air dalam jangka waktu tertentu, sebelum dialirkan ke laut atau daerah resapan lain.

 

Adapun pekerjaan fisik giant sea wall dan kolam retensi yang terintegrasi dengan Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1 (Kaligawe-Sayung) ini dimaksudkan untuk menanggulangi banjir dan rob di sisi selatannya. 


Harapan Warga Terdampak Rob Demak

Keberadaan pemukiman di Desa Timbulsloko Demak tampak seperti mengambang di permukaan air.

Bencana abrasi yang perlahan menenggelamkan daratan di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, membuat warga desa setempat merana. Sebab rumah-rumah mereka berdiri rapuh di antara gelombang air pasang.


Keberadaan pemukiman yang dihuni 100 kepala keluarga ini, tampak seperti mengambang di permukaan air. Dengan akses jembatan kayu yang menghubungkan rumah ke rumah, membuat kampung ini terisolasi. Warga harus menaiki perahu untuk bisa sampai ke desa sebelah, atau melalui tanggul dengan pemandangan air di kanan dan kiri.

 

Merespon penderitaan korban banjir rob di desa setempat, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan bantuan pembangunan rumah apung untuk warga. Meski belum merata, namun program tersebut merupakan upaya penanganan rob di wilayah Demak.

 

Sementara itu, salah satu penerima manfaat rumah apung, Muslim mengaku senang adanya bantuan rumah apung dari Pemprov Jateng. Bantuan itu sangat bermanfaat untuk menjadikan hidupnya lebih baik dan nyaman.

 

“Sangat senang sih dengan bantuan ini, karena dengan rumah apung membuat kami lebih nyaman nantinya,” ujar Muslim.

 

Desa yang ditinggali Muslim dan ratusan warga lainnya, menjadi kawasan terdampak abrasi. Genangan air pasang semakin meninggi hingga pada tahun 2017 sulit diatasi, seperti lautan dan merusak pemukiman warga.

 

“Saya sudah meninggikan rumah dengan menguruk itu tiga kali, tapi akhirnya tergenang lagi. Air itu terus meninggi sampai sekarang,” kenang Muslim.

 

Muslim kini tinggal di sebuah rumah dengan lantai kayu, yang memprihatinkan. Kondisi itu membuat keluarganya khawatir jika suatu waktu roboh akibat gelombang.

 

“Ya hidup tidak tenang. Tapi dengan bantuan rumah apung, hidup kami nanti lebih tenang, karena rumahnya kan tidak kena rob lagi,” paparnya.

 

Hal serupa juga disampaikan Romani, penerima manfaat rumah apung yang lain. Ia sangat antusias karena selama ini tidak pernah membayangkan bakal punya hunian yang nyaman dan aman.

 

“Ya senang dibantu rumah apung. Ini rumah saya sudah jelek, setengahnya digenangi air rob. Rumah ini saya tinggali bareng istri dan dua anak,” tambahnya.

 

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube