SEMARANG — Tidak banyak yang tahu, Kota Semarang bukan hanya dikenal sebagai kota metropolitan yang terkenal sebagai pusat perdagangan dan industri, tetapi juga menyimpan jejak sejarah penting sebagai tempat lahirnya Partai Komunis Indonesia (PKI).
Hal ini diungkapkan oleh sejarawan Universitas Negeri Semarang (Unnes), Tsabit Azinar Ahmad, yang meneliti akar sejarah pergerakan buruh dan organisasi rakyat di ibu kota Jawa Tengah tersebut.
Menurut Tsabit, Semarang menjadi pusat pergerakan karena faktor tokoh kunci bernama Semaoen. Ia merupakan Ketua Sarekat Islam (SI) Cabang Semarang sekaligus aktivis buruh kereta api dalam organisasi VSTP (Vereeniging van Spoor en Tram Personeel). Dari sinilah benih pergerakan komunis di Indonesia mulai bertumbuh.
"Semarang itu kota tempat lahirnya komunisme, terutama PKI. Awalnya berangkat dari Sarekat Islam Semarang yang basis massanya buruh. Dari situ, Semaoen mendirikan cikal bakal PKI," ungkap Tsabit kepada Diswayjateng.com, Senin 29 September 2025.
Menurutnya, tidak semua Sarekat Islam memiliki karakter yang sama. Di Solo, SI bergerak di bidang perdagangan. Di pedalaman Banjarnegara dan Purbalingga, SI berhadapan dengan arus kristenisasi, sehingga dipimpin oleh para penghulu dan ulama.
"Kalau SI Semarang justru tumbuh dari basis buruh pabrik, buruh kereta api, dan kaum pekerja kota industri. Karena itu, gerakannya kental dengan pemogokan dan perlawanan kelas pekerja terhadap kolonial," ujarnya.
Kedekatan Semaoen dengan tokoh sosialis Belanda H.J.F.M. Sneevliet, pendiri ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging), juga memperkuat jalur ideologi kiri di Semarang. Dari sinilah lahir “Sarekat Islam Merah”, yang kelak berkembang menjadi Partai Komunis Indonesia.
Perpecahan dalam tubuh SI terjadi pada 1920-an, ketika diberlakukan “disiplin partai” yang mewajibkan kader memilih hanya satu organisasi. Semaoen dan pengikutnya memilih jalur kiri. Maka lahirlah PKI yang menjadikan Semarang sebagai basis pergerakan.
Tsabit mencertiakan jejak sejarahnya masih bisa dilihat hingga kini, salah satunya di Kampung Endong, Kota Semarang, tempat berdirinya gedung SI yang dibangun Semaun pada 1918 dan selesai pada awal 1920-an.
"Gedung ini sempat menjadi pusat pendidikan SI, bahkan pernah melibatkan tokoh besar seperti Tan Malaka sebagai guru. Pendidikan inilah yang kelak menginspirasi Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa," ujarnya.
Lebih lanjut, jejak sejarah lain rumah yang merupakan awal mula berdirinya jalan Beringin Kota Semarang menjadi saksi awal mula direncanakan pembentukan PKI.
"Ada salah satu rumah di jalan Beringin yang saat ini dihuni salah satu veteran yang dulunya digunakan rapat awal mula berdirinya PKI," ujarnya.
Meski sempat dihantam represi Belanda usai pemberontakan 1926–1927, PKI kembali bangkit pasca-kemerdekaan. Di Pemilu 1955, PKI menjadi partai terbesar keempat secara nasional. Namun khusus di Kota Semarang, PKI justru tampil sebagai partai nomor satu, bahkan memperkuat dominasinya dalam Pemilu Daerah 1957.
“Di Semarang, basis massa PKI sangat kuat. Ada ratusan ribu pemilih yang menjadikan PKI sebagai pemenang di kota ini,” jelas Tsabit.
Kebangkitan PKI pasca-1950 juga ditandai dengan rapat-rapat raksasa di Semarang, menghadirkan massa dalam jumlah ratusan ribu. Inilah yang memperkokoh posisi kota ini sebagai basis politik PKI hingga pecahnya tragedi 1965.
Meski sempat berjaya, sejarah PKI di Semarang berakhir tragis. Setelah peristiwa G30S 1965, simpati publik seketika berbalik arah. Dari partai pemenang pemilu, PKI kemudian menjadi musuh negara dan rakyat.
Jejak fisik PKI di Semarang pun nyaris hilang. Kantor PKI yang dulu sempat disebut berada di Jalan Blimbing kini tak lagi dikenali. Hanya sedikit saksi sejarah yang masih bisa menunjukkan sisa-sisa keberadaannya.
Selain PKI, organisasi perempuan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), yang awalnya bernama Gerwis, juga lahir di Semarang. Hal ini semakin mempertegas kota ini sebagai pusat gerakan kiri di masa lalu.
Menurut Tsabit, runtuhnya PKI tidak semata karena politik, tetapi juga dipicu konflik sosial yang sudah lama terpendam. PKI dikenal dengan jargon “Tujuh Setan Desa”, yang menyerang tuan tanah dan elite lokal.
"Hal ini menimbulkan resistensi, terutama dari kalangan pesantren di Jawa Timur, ujarnya.
Ketika G30S meletus, kebencian yang sudah lama mengendap itu meledak menjadi aksi balas dendam. Gelombang pembantaian pun terjadi, menandai akhir dari PKI di Indonesia.
Meski PKI sudah lama tiada, Semarang tetap menyimpan catatan penting sejarah pergerakan kiri di Indonesia. Dari Sarekat Islam Merah, gerakan buruh, hingga lahirnya PKI dan Gerwani, semua berawal dari kota ini.
“Semarang menjadi titik awal lahirnya PKI, basisnya adalah buruh dan kaum pekerja. Itulah yang membuat kota ini unik dalam sejarah politik Indonesia,” kata Tsabit.