SEMARANG — Sembilan hari sudah genangan air setinggi hampir satu meter masih menutup sebagian besar wilayah Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Di tengah genangan yang tak kunjung surut, Sunariyo (58), Ketua RW 2, tetap tegar mengatur warganya yang terdiri dari seribu jiwa agar bisa bertahan hidup di tengah bencana banjir yang datang tiap tahun.
“Banjir ini sudah sejak Jumat, sampai Kamis ini berarti hampir seminggu lebih,” ujarnya kepada diswayjateng.com, Kamis, 30 Oktober 2025.
Dengan suara tenang, meski tubuhnya letih, Sunariyo menjelaskan bagaimana empat RT di bawah wilayah RW-nya kini tenggelam oleh air setinggi 70–90 sentimeter.
Sunariyo menyebut, dari empat RT yang ia pimpin, sekitar 60 kepala keluarga (KK) di tiap RT kini terdampak. Sebagian warga memilih bertahan di rumah, sementara sebagian kecil lainnya mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
“Kalau dihitung, mungkin sekitar seribu jiwa. Tapi yang benar-benar mengungsi itu cuma sekitar seratus orang, yang lain tetap bertahan,” ujarnya.
Menurutnya, warga sulit diajak mengungsi karena alasan ekonomi, hewan peliharaan, dan keterbatasan tempat penampungan.
“Kadang itu angel diuyak-uyak (sulit diajak pindah),” katanya sambil tersenyum pahit.
Sudah sembilan hari air tidak surut, sementara kebutuhan makan terus berjalan. Di tengah kesulitan akses menuju pasar akibat genangan, warga mengandalkan stok bahan makanan lama serta bantuan dapur umum yang disediakan oleh pihak kelurahan dan relawan.
“Biasanya kalau banjir begini, ya kami hidup dari bahan makanan sisa kemarin. Kadang dapat bantuan juga dari dapur umum,” tutur Sunariyo.
Namun, dapur umum yang sebelumnya didirikan di kelurahan kini ikut tergenang, sehingga ia berencana mendirikan dapur umum di rumahnya sendiri.
“Biasanya di rumah saya, kalau tidak ada tempat lain,” tambahnya.
Pantauan diswayjateng.com, kondisi geografis Kelurahan Trimulyo merupakan daerah cekungan alami, sehingga air dari wilayah yang lebih tinggi terus mengalir dan menggenangi permukiman warga. Sekolah dan masjid semua terendam banjir, sebagian warga mengungusi di lantai dua masjid dan mushola yang lokasinya lebih tinggi.
Banjir di Trimulyo bukan hal baru. Setiap tahun, wilayah ini menjadi langganan genangan karena letaknya yang lebih rendah dibandingkan daerah sekitar. Air dari kawasan industri dan permukiman lain di timur dan selatan semua bermuara ke Trimulyo.
“Trimulyo ini seperti mangkok,” kata Sunariyo menggambarkan topografi daerahnya.
Ia menjelaskan, sistem drainase di wilayahnya bergantung pada pompa air untuk mengalirkan genangan ke sungai. Namun, menurutnya, pompa yang ada tidak cukup kuat dan sering tidak maksimal berfungsi.
“Kadang pompanya difoto hidup lima, tapi setelah pejabat pulang yang hidup cuma dua,” ujarnya, setengah berkelakar namun menyiratkan keprihatinan mendalam.
Karena itu, Sunariyo berharap pemerintah bisa menambah pompa portable agar genangan lebih cepat surut.
Sebagai warga asli Trimulyo sejak kecil, Sunariyo sudah paham benar bagaimana banjir menjadi bagian hidup mereka. Tapi harapan untuk hidup tanpa genangan tak pernah padam.
“Harapan kami ya tiap tahun jangan sampai banjir lagi. Dicarikan solusinya,” katanya tegas.
Ia menyebut, pemerintah sudah berupaya membangun tanggul dan rumah pompa, namun masih belum mampu mengatasi limpasan air dari kawasan industri sekitar.
“Kalau hujan deras terus, ya tetap saja air numpuk ke sini. Jadi yang kami butuhkan itu pompa tambahan dan talud di depan kawasan industri,” imbuhnya.
Meski kritis terhadap kondisi infrastruktur, Sunariyo tetap memberikan apresiasi kepada aparat kelurahan dan kecamatan yang tanggap menangani banjir kali ini.
“Saya sangat berterima kasih dengan Pak Lurah Pak Zaki dan Pak Camat. Mereka cepat tanggap,” katanya.
Di tengah keterbatasan, Sunariyo dan warga RW 2 masih bertahan dengan semangat gotong royong. Mereka saling bantu menyediakan makanan, menjaga rumah, dan memastikan anak-anak tetap aman.
“Yang penting warga tetap semangat. Air bisa datang lagi, tapi rasa kebersamaan jangan sampai tenggelam,” tuturnya.
Berita sebelumnya Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman atau yang akrab disapa Pilus, mengunjungi banjir di wilayah Kecamatan Genuk. Pilus meminta Pemerintah Kota Semarang segera menambah jumlah pompa air sebagai langkah cepat untuk mengantisipasi banjir susulan.
“Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas PU harus segera menambah pompa. Enggak tahu gimana caranya, tapi harus disiapkan dulu. Sambil proyek kolam retensi berjalan, pompa harus dimaksimalkan agar genangan cepat surut,” ujar Pilus di sela kunjungan, Kamis 30 Oktobet 2025.
Ia juga menegaskan, sejumlah pompa yang sudah ada perlu dicek kembali fungsinya karena sebagian dilaporkan tidak beroperasi dengan optimal.
“Pompanya ada, tapi tidak berfungsi. Ini yang perlu dipertanyakan, apakah rusak, atau justru difungsikan untuk hal lain,” tambahnya.(SUL)