SEMARANG — Perubahan teknologi dan perilaku publik membuat industri media menghadapi gelombang besar transformasi digital.
Pengamat media Wicaksono, yang dikenal dengan sapaan “Ndoro Kangkung”, menyampaikan hal itu dalam diskusi dan pelatihan jurnalistik yang digelar Telkom bekerja sama dengan Publisiana melalui program Sharing with Media.
Kegiatan bertema Transformasi Telkom untuk Bangsa, Bersama Media Wujudkan Indonesia Terkoneksi berlangsung di ruang utama gedung Telkom jalan pahlawan Semarang diikuti puluhan jurnalis di Kota Lumpia.
Menurut Wicaksono, banyak perusahaan pers masih kelabakan menghadapi perubahan, terutama dari sisi bisnis.
“Banyak media keteteran. Kuncinya bukan menolak perubahan, tapi bisa beradaptasi. Prinsip jurnalistik tetap, yang berubah hanya cara menyampaikan,” ujarnya.
Ia menekankan, media sosial kini menjadi kanal utama komunikasi publik. Pergeseran lanskap informasi itu melahirkan tantangan baru berupa maraknya hoaks, disinformasi, fitnah, hingga ujaran kebencian.
“Ada perang narasi di ruang digital. Di tengah tsunami informasi seperti sekarang, media dan jurnalis profesional seharusnya berperan sebagai clearing house, rumah penjernih,” tegasnya.
Wicaksono juga menyoroti perubahan drastis dalam pola komunikasi. Jika dulu penyampaian informasi bersifat monolog dan birokratis, kini komunikasi berlangsung interaktif, kritis, dan real-time.
Publik tidak lagi pasif, melainkan mampu memverifikasi dan mengkritisi langsung.
Menurut dia, tantangan media saat ini tidak hanya datang dari sesama perusahaan pers, tapi juga dari influencer, tekanan clickbait, dan polarisasi opini publik.
Di sisi lain, kehadiran kecerdasan buatan (AI) dinilai sebagai peluang jika dimanfaatkan secara tepat. AI dapat mempercepat kerja jurnalistik, mulai dari transkripsi, riset, hingga analisis data.
“Format baru seperti visualisasi, audio otomatis, dan investigasi berbasis data bisa terbuka lewat teknologi,” ucapnya.
Namun ia mengingatkan, AI harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti jurnalis.
“Gunakan AI sebagai asisten. Kuasai tools dasar seperti ChatGPT, Gemini, atau Midjourney, tapi tetap lakukan verifikasi manual,” pesannya.
Wicaksono menegaskan, di tengah derasnya arus informasi, marwah jurnalistik hanya bisa dijaga jika media tetap berpegang pada etika, akurasi, dan fungsi pelayanan publik.
Sementara itu, Asisten Vice President External Communication Telkom, Sabri Rasyid, mengapresiasi antusiasme peserta.
“Alhamdulillah, teman-teman media bisa hadir hari ini. Acara di Semarang ini merupakan seri keempat setelah Medan, Makassar, dan Surabaya.
Harapan kami, kegiatan ini bisa memberi pencerahan dan transfer ilmu dari narasumber kepada para wartawan,” tuturnya.
General Manager Witel 3 Semarang Jateng Utara, Pribadi Nirwana, selaku tuan rumah, juga menyampaikan terima kasih dan sambutan hangat kepada para peserta.
Selain Wicaksono, pembicara lainnya yaitu Rustam F. Mandayun, Imam Wahyudi, M. Taufiqurrahman dan Nanang Junaedi