SEMARANG — SEMARANG – Kehadiran bajaj sebagai moda transportasi roda tiga di Kota Semarang mendapat sambutan hangat dari warga. Unggahan pengguna bajaj yang viral di media sosial menjadi bukti minat publik yang tinggi.
Namun antusiasme itu berlawanan dengan sikap Pemerintah Kota Semarang. Sebagai pemegang kewenangan, Dinas Perhubungan belum menerbitkan izin operasional bagi Maxride selaku operator bajaj.
Senior Digital Marketing Manager Nasional Maxride, Adhika Yosmik, menyebut layanan Maxride telah membuka lebih dari 3.000 lapangan kerja di berbagai kota.
Namun polemik regulasi di Semarang membuat rekrutmen dihentikan, meski 200 calon driver sudah mendaftar.
Adhika menegaskan unit bajaj Maxride berstatus kendaraan pribadi berpelat hitam yang dapat dipakai untuk keperluan bisnis maupun nonbisnis.
"Aplikasi Maxride juga telah mengantongi izin PSE, sementara uji kir menurutnya tidak diwajibkan karena kendaraan dipakai mengangkut penumpang" kata Yosmik dalam jumpa pers di kantornya Senin 17 November 2025.
Maxride berharap pemerintah daerah membuka ruang dialog untuk menyelesaikan persoalan ini.
Ia menambahkan, permintaan layanan di Semarang sangat tinggi, tetapi baru 30 persen yang bisa dipenuhi akibat keterbatasan driver.
Seluruh pengemudi juga telah ditanggung BPJS Ketenagakerjaan, dan perusahaan berkomitmen menjaga keselamatan penumpang.
“Kami datang untuk jadi solusi, bukan masalah,” ujarnya.
City Manager Maxride Semarang, Siva Gesita, menjelaskan bahwa bajaj merupakan produk otomotif asal India yang telah didistribusikan ke Filipina, Vietnam, Thailand, hingga Indonesia.
"Di Semarang, kantor Bajaj berada di Jalan Brigjen Sudiarto, Pedurungan Semarang" kata Siva
Menurut Siva, Maxride memiliki dua entitas bisnis, yaitu distribusi unit dan aplikasi.
"Secara nasional aplikasi Maxride telah diunduh lebih dari 1 juta kali, dan khusus Kota Semarang mencapai 144 ribu unduhan" kata Siva.
Saat ini terdapat 45 unit bajaj di Semarang yang digunakan untuk kebutuhan pribadi.
Ia menegaskan bahwa bajaj modern tidak lagi identik dengan suara bising seperti generasi lama karena sudah menggunakan mesin Euro 4, dengan suku cadang terjamin serta mekanik terlatih.
Siva berharap pemerintah memberikan ruang diskusi.
Maxride, katanya, hanya ingin memberi pilihan transportasi bagi warga, termasuk mereka yang sebelumnya tidak bisa bergabung dengan aplikasi transportasi lain.