DEMAK —
Demak – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Demak sejak beberapa hari terakhir menyebabkan banjir limpas di sejumlah kecamatan. Meski air di sebagian besar wilayah sudah berangsur surut, ribuan warga di Kecamatan Sayung masih harus berjibaku dengan genangan air yang belum sepenuhnya hilang.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kabupaten Demak, hingga Kamis (30/10/2025) pukul 10.00 WIB, banjir melanda lima kecamatan dan 13 desa, di antaranya Kecamatan Karangtengah, Sayung, Guntur, Karanganyar, dan Wonosalam. Namun, kondisi paling parah terjadi di Kecamatan Sayung, khususnya Desa Kalisari, Sriwulan, dan Sayung.
Di Desa Kalisari, banjir masih menggenangi jalan utama desa dengan ketinggian air mencapai 20–50 sentimeter, sementara di permukiman warga mencapai 10–20 sentimeter dan cenderung meningkat.
BPBD mencatat, sebanyak 750 rumah, 1.420 kepala keluarga, atau sekitar 4.794 jiwa terdampak banjir di Desa Kalisari. Selain itu, 200 hektare lahan sawah, 22 tempat ibadah, empat sekolah, dan delapan makam juga tergenang.
Kondisi serupa terjadi di Desa Sriwulan dan Desa Sayung. Ketinggian air di dua wilayah tersebut berkisar antara 10–35 sentimeter, meski menunjukkan tren menurun setelah dilakukan pompanisasi menggunakan mobile pump.
“Kami terus melakukan penyedotan air di titik-titik genangan agar warga bisa beraktivitas kembali,” jelas Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Demak, Suprapto, saat dihubungi, Kamis (30/10/2025).
BPBD bersama unsur Forkopimcam, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat masih melakukan monitoring, assessment, serta koordinasi dengan pemerintah desa terdampak. Selain itu, warga juga bergotong royong membersihkan tumpukan sampah dan memperkuat tanggul sungai agar air tidak kembali meluap.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Demak, Agus Sukiyono, menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya menormalisasi aliran sungai dan mempercepat proses pompanisasi.
“Kami butuh dukungan untuk normalisasi sungai dan penguatan tanggul di beberapa titik seperti Sungai Tuntang, Jajar, dan Setu agar banjir tidak meluas,” ujarnya.
Sementara itu, pantauan di lapangan menunjukkan genangan air di Jalan Pantura Sayung, tepatnya depan HIT Polytron, masih terjadi dengan ketinggian air antara 10–25 sentimeter yang memperlambat arus lalu lintas.
Meski debit air di beberapa wilayah mulai menurun, warga Sayung berharap pemerintah segera melakukan langkah permanen agar banjir tidak terus menjadi bencana tahunan.
“Setiap musim hujan, kami selalu khawatir. Kalau bisa, sungainya segera dinormalisasi,” tutur Sarjono (55), warga Desa Sriwulan.
BPBD Demak mengimbau masyarakat tetap waspada dan segera melapor jika terjadi kenaikan debit air secara tiba-tiba. Hingga siang ini, proses penanganan masih terus berlangsung di beberapa desa terdampak.