SEMARANG — Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar program edukasi urban farming di RT 6 RW 3 Perumahan Green Village, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Kegiatan ini menjadi bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bentuk pengabdian masyarakat untuk mendukung program ketahanan pangan yang sudah dicanankan oleh Pemerintah Pusat.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FISIP Unnes, Fulia Aji Gustaman, menjelaskan kegiatan bertajuk Edufarm tersebut berfokus pada pemanfaatan lahan terbatas melalui penanaman sayuran dan pemberdayaan kolam lele.
"Urban farming ini berupa penanaman sayur-sayuran seperti bayam, seledri, cabai, dan beberapa tanaman lain dengan pola vertikal garden maupun lahan tanah langsung. Selain itu, kami juga menyiapkan kolam lele berkapasitas 500 hingga 700 bibit," terang Aji kepada Diswayjateng.com, Minggu 21 September 2025.
Lebih lanjut, progam ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi masyarakat untuk mengembangkan pola ketahanan pangan sederhana di tingkat rumah tangga.
"Hasilnya bisa dimanfaatkan warga Dawis untuk kebutuhan sehari-hari, meski masih sebatas penunjang," imbuhnya.
Urban farming yang dikembangkan memanfaatkan lahan terbatas dengan instalasi vertical garden berukuran 3x2 meter dilengkapi sistem irigasi tetes. Pendanaan kegiatan berasal dari dana penelitian dan pengabdian FISIP Unnes, sementara warga berperan dalam penyediaan lahan.
Aji menambahkan, pihaknya akan terus melakukan pendampingan dan evaluasi agar program ini bisa berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.
"Pastinya nanti kita akan pantau dan kita lakukan pendampingan agar ada evaluasi. Kalau ada permintaan inovasi dari warga, tentu akan kami tindak lanjuti," katanya.
Progam pemberdayaan masyarakat urban farming yang bekerjasama dengan Dasawisma (Dawis) Amarilis 4 Perumahan Green Village ini sebagai bentuk ketahanan pangan lokal sekaligus meningkatkan produktivitas lingkungan.
Ketua RT 6 RW 3, Jumiko, menjelaskan bahwa keterbatasan lahan di perumahan tidak menghalangi warganya untuk memanfaatkan area sekitar menjadi lebih bermanfaat.
"Program pemberdayaan masyarakat ini sangat membantu. Dengan vertical garden, lahan sempit bisa produktif, bermanfaat bagi ibu-ibu Dawis, dan hasilnya dapat langsung dimanfaatkan warga," ujarnya.
Untuk menjaga keberlanjutan program tersebut, Dawis Amarilis 4 menerapkan sistem piket harian. Warga yang mendapat giliran bertugas merawat tanaman sayur di vertical garden maupun kolam lele. Aktivitas ini biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari.
"Nanti akan kita lakukan dengan sistem bergilir atau gantian dari setiap warga agar saling peduli dengan urban farming ini. Jadi siapapun warga berhak memanen dan ikut merawat, sehingga hasilnya benar-benar bisa dirasakan bersama," tambah Jumiko.
Bibit tanaman berasal dari iuran Dawis serta pengembangan mandiri dari benih tanaman yang sudah ada, seperti cabai dan sayuran. Sementara itu, bibit lele masih diperoleh dari pembelian, meski banyak warga yang ikut berpartisipasi menyediakan.
"Untuk pembibitan, yang tidak bisa ditanam kembali seperti bayam nanti akan dibelikan dari uang dawis. Kalau untuk bibit lele, Alhamdulilah banyak donatur dari warga yang ikut berpatisipasi dana pemberdayaan lele tersebut," ujarnya.
Pemberdayaan lele ini tidak lepas permasalahan dari bau dan limbah airnya, Jumiko menambahkan untuk mengatasi masalah bau dari kolam lele, warga rutin melakukan pengurasan air minimal dua minggu sekali serta memastikan pakan tidak menimbulkan pencemaran.
"Kalau dikelola dengan baik, insyaallah tidak menimbulkan bau," jelasnya.
Saat ini hasil panen digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan warga RT 6, termasuk warga RT 8 yang berada di perumahan yang sama. Program ini masih fokus pada ketahanan pangan lokal sebelum dikembangkan ke arah ekonomi atau usaha bersama.
"Ke depan, bukan tidak mungkin bisa menjadi peluang ekonomi. Namun untuk sekarang, prioritas kami adalah ketersediaan pangan sehat bagi warga," kata Jumiko.
Dengan adanya vertical garden dan kolam lele, warga berharap lingkungan semakin produktif, sehat, dan mandiri. Program ini juga diharapkan menjadi contoh pemberdayaan masyarakat di kawasan perkotaan dengan lahan terbatas.(SUL)