Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Cara Warga Semarang Ubah Sampah Organik Jadi Kompos, Solusi Kurangi Beban TPA Jatibarang

Warga mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos guna mengurangi volume sampah yang menumpuk di TPA Jatibarang. (ist)

SEMARANG — Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai di banyak kota, termasuk Kota Semarang. Volume sampah yang terus meningkat membuat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang setiap harinya kian sesak. 


Jika tidak ada solusi konkret, bukan tidak mungkin tumpukan sampah akan menjadi bom waktu yang mengganggu kesehatan dan lingkungan. Namun, di tengah masalah yang pelik itu, muncul inspirasi dari warga kecil di Kampung Wonodri, Semarang Selatan. 


Ia adalah Soereng Wibowo, warga RT 4 RW 2, yang mencoba mencari cara sederhana untuk mengolah sampah organik agar tidak sekadar menumpuk di tong atau diangkut ke TPA.


Soereng bercerita, ide ini berawal dari kegelisahannya melihat banyaknya sampah dapur, sisa sayuran, kulit buah, hingga daun kering yang biasanya langsung dibuang. Padahal, jika diolah, semua itu bisa berubah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman.


"Prinsipnya sederhana. Sampah organik jangan langsung dibuang, tapi dipilah dan dicacah dulu. Kalau ditambah bahan ‘cokelat’ seperti daun kering, jerami, atau sekam, baunya juga bisa dikurangi," jelasnya Minggu 14 September 2025.


Soereng tidak sendirian, ia mengajak beberapa tetangganya untuk mulai meniru langkah ini. Menurutnya, cara ini bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga bisa membantu mengurangi beban TPA Jatibarang yang setiap harinya menerima ribuan ton sampah.


Rahasia Bahan ‘Cokelat’

Bahan ‘cokelat’ yang dimaksud Soereng adalah material kering yang berfungsi menyeimbangkan kadar karbon dalam komposter. Misalnya, daun kering, bubuk kopi bekas, sekam padi, hingga jerami.


"Kalau hanya sampah dapur, biasanya bau menyengat akan muncul. Tapi kalau ditambah bahan cokelat dan aktivator, hasilnya lebih cepat jadi kompos dan tidak menimbulkan masalah bau," tambahnya.


Aktivator yang digunakan bisa berupa EM4 atau kompos matang yang sudah jadi. Fungsi utamanya mempercepat penguraian sehingga proses pembuatan kompos lebih efektif.


Berikut langkah-langkah yang bisa ditiru dari cara Soereng Wibowo dalam membuat kompos sederhana:


Pisahkan sampah organik dari sampah anorganik


Cacah sampah organik hingga ukuran 1–2 cm agar lebih cepat terurai

Siapkan bahan cokelat (daun kering, jerami, sekam, bubuk kopi)


Gunakan komposter; bisa wadah tertutup atau lubang di tanah


Tumpuk sampah organik dan bahan cokelat secara bergantian


Tambahkan aktivator (EM4 atau kompos jadi)


Jaga kelembaban dan sirkulasi udara agar proses berjalan baik


Aduk secara berkala


Panen kompos setelah matang


Kompos yang dihasilkan kemudian bisa dipakai untuk tanaman hias, kebun kecil, atau bahkan dijual kepada warga yang membutuhkan.


Langkah kecil yang dilakukan warga RT 4 RW 2 Wonodri ini sejalan dengan program “Semarang Bersih” yang dicanangkan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng. Program ini mendorong partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah tangga.


"Kalau semua warga mulai dari lingkungan masing-masing, pasti dampaknya besar. Sampah organik bisa jadi kompos, sampah plastik bisa diolah, dan yang dibuang ke TPA jumlahnya jauh berkurang," kata Soereng penuh semangat.


Apa yang dilakukan warga Wonodri membuktikan bahwa solusi persoalan sampah bisa dimulai dari langkah kecil. Tak perlu menunggu program besar atau teknologi mahal, karena kuncinya ada pada kemauan masyarakat untuk beraksi.


Bagi Anda yang ingin mencoba, langkah-langkah di atas bisa dipraktikkan langsung di rumah. Selain lebih ramah lingkungan, kegiatan ini juga bisa menghemat biaya pupuk, bahkan menghasilkan peluang ekonomi baru.


"Mulai dari hal kecil di rumah kita sendiri. Kalau semua orang bergerak, Indonesia bisa bebas dari darurat sampah," pungkas Soereng.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube