SALATIGA — Menurut Kajian Resiko Bencana yang telah disusun Kota Salatiga, bahwa bencana Hidrometeorologi cuaca extrim puting beliung menjadi prioritas utama.
"Sehingga di tahun ini BPBD telah menyusun rencana kontinjensinya. Dan menurut sejarah kebencanaan di Salatiga yang pernah terjadi puting beliung adalah daerah Blotongan dan Pulutan," kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Salatiga, Roy Anjar Miftachul Umami, S.ST., MM., ditengah Gladi Ruang atau Table Top Exercise (TTX) di Salatiga, Kamis 6 November 2025.
Kegiatan dibalut Penandatangani Dokumen Rencana Kontingensi Cuaca Ekstrem Angin Puting Beliung di Kota Salatiga Tahun 2025 dihadiri Wali Kota Robby Hernawan.
Terlihat pula, Wakil Wali Kota, Pj. Sekretaris Daerah, staf ahli Wali Kota, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) se-Kota Salatiga, TNI, POLRI, organisasi masyarakat serta tamu undangan.
Diungkapkan Anjar, bencana puting beliung bisa terjadi akibat perbedaan suhu yang sangat extrim.
Dimana Kota Salatiga terletak diantara gunung Merbabu, Telomoyo, pegunungan/perbukitan yang lebih dikenal dengan gunung rong dan gunung payung.
Sememo, terkait rencana Kontingensi Cuaca Ekstrem Kota Salatiga Tahun 2025 merupakan dokumen strategis Pemerintah Kota Salatiga memperkuat kesiapsiagaan dan kapasitas penanggulangan bencana hidrometeorologi.
Disampaikan Roy Anjar, adanya kejadian angin puting beliung di tiga Kelurahan di Salatiga pada Selasa 4 November 2025, pihaknya akan lebih banyak melakukan evaluasi terkait dengan pemberdayaan masyarakat.
"Sehingga, melalui kegiatan Pemerintah Kota Salatiga berkomitmen membangun sistem penanggulangan bencana yang tangguh, terpadu, dan berkelanjutan," kata Roy Anjar.
Termasuk, unsur organisasi yang sudah tergabung dalam kemanusiaan.
"Pada hari ini akan dilaksanakan gladi ruang yakni untuk menguji dokumen tersebut apakah sudah optimal ataukah masih ada masukan dari teman-teman nanti akan kita bahas," ungkapnya.
Melalui gladi pula, Anjar berharap dapat memperkuat koordinasi lintas sektor termasuk meningkatkan kapasitas seluruh unsur.
Sekaligus, menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk siap siaga menghadapi potensi bencana yang mungkin terjadi.
"Dengan sinergi antara pemerintah, aparat, akademisi, dan masyarakat, Kota Salatiga optimis mampu mewujudkan kota yang tangguh, adaptif, dan berdaya hadapi perubahan iklim," imbuhnya.