SEMARANG — Hujan deras yang mengguyur Kota Semarang sejak Selasa sore 21 Oktober 2025 kembali menyebabkan genangan parah di jalur padat kawasan timur kota. Air menggenang di sepanjang ruas Kaligawe hingga Terboyo, menutup sebagian badan jalan dan menghambat arus lalu lintas kendaraan alias macet panjang.
Kondisi tersebut membuat para pengguna jalan kembali menghadapi persoalan klasik yang muncul hampir setiap musim penghujan. Salah satunya dialami Sofie, warga Pudak Payung, yang setiap hari berangkat kerja ke kawasan industri Terboyo.
“Biasanya jam setengah delapan sudah berangkat, tapi tadi nunggu BRT sampai setengah jam lebih enggak datang-datang,” ungkapnya kepada Diswayjateng.com, Rabu 22 Oktober 2025, sambil memandangi kemacetan panjang di depan matanya.
Sofie sempat berharap transportasi daring bisa menjadi alternatif, namun pesanan ojek online yang ia buat justru dibatalkan berkali-kali.
“Nunggu ojol juga enggak bisa. Sudah lama, tapi batal terus,” keluhnya.
Ia menuturkan, banjir di kawasan tersebut bukan hal baru. Selama lima tahun bekerja di kawasan industri itu, genangan air selalu datang setiap musim hujan.
“Setiap tahun pasti banjir. Sudah langganan. Kadang pompa air enggak nyala, jadi air menumpuk terus,” ujarnya.
Akibat kondisi itu, banyak pekerja yang tinggal di wilayah atas kota seperti dirinya terlambat sampai di tempat kerja. Sofie berharap persoalan banjir di kawasan industri timur Semarang ini bisa segera mendapatkan solusi permanen.
“Kalau bisa banjirnya cepat diatasi. Kasihan yang kerja di bawah, tiap hujan pasti terjebak,” tambahnya.
Tidak jauh dari lokasi Sofie menunggu, Hadi, warga Wonokerto, Demak, juga mengalami kesulitan serupa. Ia terpaksa mendorong motornya yang mogok di depan Rumah Sakit Islam Sultan Agung setelah melewati genangan air cukup tinggi di kawasan Sayung dan Kaligawe.
“Mogok kelebon air,” ujarnya singkat sambil mengatur napas usai mendorong motornya.
Hadi yang bekerja sebagai tukang bangunan di Pasar Burung Semarang, mengaku berangkat sejak pagi dari Sayung. Biasanya, perjalanan hanya memakan waktu sekitar 30 menit, namun kali ini terhambat karena banjir.
“Di Sayung airnya sekitar 40 sentimeter, itu kan banjir rob. Kirain cuma di sana, ternyata di sini juga banjir,” tuturnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan genangan air terjadi di sepanjang jalur Kaligawe hingga Terboyo. Banyak pengendara memilih menepi, menunggu air surut, atau memperbaiki motor yang mogok. Mobil pribadi dan truk berjalan perlahan agar tidak terperosok ke lubang jalan yang tertutup air.
Sejumlah pemotor terlihat berhati-hati melewati genangan dengan kaki terangkat tinggi agar motor tidak kemasukan air. Kondisi ini menambah panjang antrean kendaraan di jalur utama menuju kawasan industri dan pelabuhan tersebut.
Salah satu sopir truk, Ujang, yang mengangkut logistik dari Tangerang menuju Terboyo, mengaku harus ekstra hati-hati agar truknya agar tidak masuk lubang yang membuat truk mudah terguling.
“Kalau jalan seperti ini harus pelan. Banyak lubang yang enggak kelihatan karena tertutup air,” ujarnya.
Menurutnya, kemacetan semakin parah karena proyek perbaikan jalan dan pembangunan tol di depan Pasar Kubro turut mempersempit jalur.
“Biasanya lewat Kaligawe lancar. Sekarang macet panjang dari proyek sampai Terboyo karena banjir,” tambahnya.
Ujang menyebut tidak ada kerugian materiil dalam pengiriman logistik, namun waktu tempuh jadi jauh lebih lama. “Rugi waktu saja, soalnya kiriman jadi terlambat,” ungkapnya.