Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Angka Kelahiran Turun di Kota Semarang: Banyak Faktor, Dari Tunda Pernikahan, Ekonomi dan Gaya Hidup

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Semarang
 Yudi Hardianto Wibowo
mengungkap adanya tren penurunan jumlah penerbitan akta kelahiran. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Semarang, Yudi Hardianto Wibowo, mengungkap adanya tren penurunan jumlah penerbitan akta kelahiran dalam beberapa tahun terakhir.


Berdasarkan data resmi yang disampaikannya, jumlah penerbitan akta kelahiran sejak tahun 2022 terus menurun.


“Tahun 2022 jumlah akta kelahiran yang diterbitkan sebanyak 28.894, kemudian tahun 2023 menurun menjadi 26.053, dan hingga tahun 2024 tercatat 20.744. Sementara pada tahun 2025, hingga bulan Juni ini baru 10.066 akta kelahiran yang diterbitkan penurunan ini, ,” jelas Yudi kepada diswayjateng.com di kantornya, Kamis 24 Juli 2025.


Menurut Yudi, menunjukkan kecenderungan turunnya angka kelahiran, meskipun tidak bisa langsung disimpulkan sebagai penurunan jumlah penduduk secara keseluruhan.


Ia menambahkan, faktor domisili generasi muda yang cenderung tinggal di pinggiran kota juga menjadi penyebab sekolah-sekolah di pusat kota kekurangan murid.


“Generasi muda, terutama usia produktif, banyak yang tinggal di pinggiran seperti Tembalang, Mijen, Tugu, dan Kaligawe. Di tengah kota, hanya sebagian yang menetap karena alasan orang tua atau warisan rumah,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah tren ini berkaitan dengan kebijakan program Keluarga Berencana (KB) atau faktor sosial lainnya, Yudi menilai bahwa banyak faktor yang bisa mempengaruhi, seperti kondisi ekonomi, ketersediaan lapangan kerja, dan gaya hidup.


“Kalau saya lulusan kuliah, belum bekerja, saya kira belum berani menikah. Itu realitas sekarang. Zaman dulu beda, sekarang ekonomi menjadi pertimbangan utama,” tambahnya.


Ia juga mengingatkan agar tren ini tidak disamakan dengan fenomena childfree yang berkembang di beberapa negara maju. Meskipun belum ada penelitian resmi soal itu di Kota Semarang, Yudi berharap hal tersebut tidak menjadi budaya yang mengakar di masyarakat Indonesia.


Meski begitu, Yudi menegaskan bahwa secara umum jumlah penduduk Kota Semarang tidak menunjukkan penurunan signifikan, karena tetap berada di kisaran 1,7 juta jiwa dengan fluktuasi yang tidak besar setiap tahunnya. Selain angka kelahiran, migrasi penduduk masuk dan keluar kota juga berpengaruh terhadap jumlah penduduk secara keseluruhan.


“Jadi jangan hanya melihat dari jumlah lahir saja. Ada juga penduduk yang datang dan pergi. Itu juga mempengaruhi jumlah penduduk,” pungkasnya.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube