SEMARANG — Berdasarkan data, 93 persen anak Indonesia memiliki masalah pada gigi, sementara hanya 7 persen yang giginya sehat. Selain itu, angka stunting di Indonesia juga masih tergolong tinggi.
Hal ini disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi saat menghadiri pemeriksaan kesehatan gratis di Sekolah SLB Negeri Semarang, Selasa 4 Aguatus 2025.
“Ini memprihatinkan, sehingga kita perlu memastikan kesehatan anak terjamin sejak dini. Pemeriksaan kesehatan gratis yang dicanangkan Presiden sejak 10 Februari 2025 adalah langkah cepat untuk melindungi masa depan generasi kita,” jelasnya.
Arifatul juga menegaskan pentingnya menyiapkan generasi muda Indonesia sejak dini untuk menyambut Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, anak-anak yang saat ini duduk di bangku sekolah akan menjadi pemimpin di usia 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
“Kami tidak ingin ada anak-anak yang tidak memiliki kesempatan yang sama dengan yang lainnya. SDM Indonesia di tahun 2045 harus berkualitas dan bermutu, maka dari sekarang pondasinya harus diperkuat,” ujar Arifatul
Menteri Arifatul mengungkapkan, salah satu tantangan besar yang dihadapi adalah masalah kesehatan anak.
Selain kesehatan, Arifatul juga menekankan pentingnya pemerataan akses pendidikan melalui program Sekolah Rakyat yang dimulai sejak 14 Juli 2025 lalu.
Program ini bertujuan memastikan semua anak Indonesia, tanpa terkecuali, dapat mengenyam pendidikan yang layak.
“Kami ingin semua anak punya kesempatan yang sama menempuh pendidikan. Sekolah Rakyat adalah upaya nyata memberikan akses setara bagi anak-anak di seluruh penjuru negeri,” ujarnya.
Masalah gizi juga menjadi perhatian serius. Program pemberian makanan bergizi melalui JIPERATIS menjadi salah satu inisiatif strategis untuk memastikan anak Indonesia tumbuh sehat.
“Anak yang sehat harus memiliki gizi yang terjamin. Ini adalah bentuk kecintaan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kepada rakyatnya,” ungkap Arifatul.
Arifatul menegaskan, program besar ini tidak bisa dijalankan satu kementerian saja. Diperlukan kerja sama lintas sektor agar visi Indonesia Emas 2045 dapat terwujud.
“Tidak ada satu pun kementerian atau lembaga yang bisa sukses berjalan sendiri. Semua harus berkolaborasi dan bersinergi. Hari ini kita buktikan bahwa kerja sama itu nyata untuk mewujudkan anak-anak Indonesia yang berkualitas sebagai calon pemimpin masa depan,” tutupnya.