SEMARANG — Raut wajah Galuh Yoga Pangestu (23) tampak sayu ketika ia secara perlahan mencari barang miliknya yang masih bisa diselamatkan dari debu arang di bekas rumahnya yang kini hanya tersisa puing hitam.
Sesekali ia terdiam, memandangi dinding bata yang gosong, seakan tak percaya tempat yang selama ini menjadi ruang istirahatnya kini lenyap dalam hitungan menit.
Rumah yang ditinggali Galuh bersama ibunya serta tujuh anggota keluarga lainnya, di Kampung Kulitan, Kelurahan Jagalan, Semarang Tengah, ikut ludes terbakar dalam kebakaran hebat pada Sabtu, 27 September 2025 siang.
Peristiwa tersebut menghanguskan total 10 rumah warga, tiga di antaranya rata dengan tanah.
Di tengah kesibukan membersihkan sisa-sisa kebakaran, Galuh bercerita bahwa ia sama sekali tidak menyangka rumahnya akan hilang dalam sekejap. Saat kejadian, ia sedang berada di pasar bersama sang ibu.
"Saya lagi di pasar, sampai sini sudah kebakaran semua," ujarnya kepada diswayjateng, Minggu 28 September 2025.
Ia sempat mendapat kabar dari tetangganya lewat pesan singkat di gawai. Perasaan Galuh langsung campur aduk, antara panik, bingung, dan tak berdaya. Ketika bergegas pulang, tubuhnya lemas begitu melihat api sudah melahap rumah yang ditempatinya sejak kecil.
"Benar-benar habis semua. Ijazah saya pun ikut terbakar, surat-surat penting, ATM, televisi, semua tidak ada yang tersisa. Kejadiannya cepat sekali, cuma 15–30 menit sudah menjalar ke mana-mana," ucapnya.
Malam pertama pascakebakaran menjadi salah satu momen paling berat bagi Galuh dan keluarganya. Tanpa rumah, mereka terpaksa tidur di balai RW bersama korban lain.
"Di rumah ada delapan orang. Semalam tidur di balai RW. Harapannya tentu ada bantuan, karena ini lumayan berat buat kami," tambah Galuh.
Meski kesedihan masih jelas terlihat, Galuh bersama warga lain tetap bergotong-royong membersihkan puing-puing. Ia mondar-mandir di antara arang bekas rumahnya, mencoba menyelamatkan apa saja yang masih bisa digunakan.
Ketua RT setempat, Deni, menjelaskan kebakaran terjadi begitu cepat karena dipicu angin kencang. Api diduga berasal dari salah satu rumah di RW 7, kemudian merembet ke RW 8.
"Api membesar karena angin bertiup ke arah selatan. Ada rumah dua lantai yang juga ikut terbakar. Untung pemadam datang meski sempat terhambat macet," katanya.
Kebakaran di kawasan padat penduduk itu membuat suasana perkampungan berubah drastis. Rumah-rumah yang biasanya ramai kini dipenuhi puing dan bau asap menyengat. Sebagian warga terdampak menumpang di rumah kerabat, sebagian lain ditampung di balai RW.
Bagi Galuh dan korban lainnya, kebakaran ini menjadi ujian berat. Bukan hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga barang-barang berharga dan dokumen penting. Kini mereka berharap uluran tangan dari pemerintah maupun masyarakat untuk bangkit kembali.
"Kalau ingat kejadian kemarin rasanya masih berat. Tapi sekarang ya harus ikhlas. Semoga ada jalan untuk bangun lagi," pungkasnya.