Cilacap — Di langit Cibeunying, harapan kembali ditinggikan. Operasi modifikasi cuaca digelar hari ini, sebuah ikhtiar untuk menahan hujan yang selama empat hari terus menjadi bayang-bayang bagi keluarga yang menunggu kabar orang tercinta, hilang di balik tumpukan material longsor Desa Cibeunying, Majenang.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan langkah ini diambil demi memberi kesempatan seluas mungkin bagi tim SAR menyusuri setiap jengkal tanah yang menelan puluhan warga.
“Sudah dilakukan. Semoga hari ini cerah, agar proses pencarian bisa maksimal,” ujarnya, setelah menyaksikan sendiri bagaimana keluarga korban memeluk harap dalam kecemasan.
Deputi Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan, menjelaskan bahwa keberhasilan modifikasi cuaca bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal bagaimana alam berpihak.
Tim ahli BMKG diterjunkan untuk membaca tanda-tanda angin dan awan—apakah mereka membawa hujan, atau bersedia memberi kesempatan untuk pencarian.
“Kalau anginnya sesuai prediksi, hujan tak akan turun. Kalau pun turun, hanya rintik. Tapi bila angin berubah, kami tak bisa menahan hujan,” katanya.
Budi berharap upaya hari ini cukup menahan turunnya hujan, atau setidaknya mengurangi derasnya.
Di bawah langit itu, tim gabungan terus menyisir material longsor, sementara keluarga korban memandang ke kejauhan, berharap setiap teriakan tim SAR membawa kabar baik.
Kepala Pelaksana BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, menyebut cuaca adalah tantangan terbesar pencarian. Operasi SAR dibatasi hingga pukul 18.00 karena kondisi yang tak bersahabat.
“BNPB memutuskan melakukan modifikasi cuaca agar hujan bisa berkurang. Kami ingin setiap detik bisa dipakai untuk menemukan mereka,” ujarnya dengan suara menahan pilu.
Hingga kini, Basarnas mencatat 11 korban sudah ditemukan. Masih ada 12 jiwa yang belum diketahui nasibnya.
Dan di tepi-tepi lokasi bencana, keluarga korban tetap bertahan—menunggu, berdoa, dan menggenggam harapan yang tak ingin mereka lepaskan.