Kebumen — Di tengah lonjakan harga dan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap beras, warga Desa Kalijering, Kecamatan Padureso, Kabupaten Kebumen memilih untuk tak tinggal diam. Bersama mahasiswa KKN IAI An-Nawawi Purworejo, mereka menanam 250 bibit singkong manggu.
Langkah ini bukan sekadar program kerja mahasiswa. Ia hadir sebagai wujud konkret membangun ketahanan pangan berbasis lokal, sebuah alternatif ketika ketergantungan terhadap beras mulai melemahkan ketahanan ekonomi rumah tangga.
"Program ini kami inisiasi sebagai bentuk respons atas krisis harga beras dan sebagai edukasi bahwa pangan tak harus selalu nasi," ujar mahasiswa KKN, Chusnul Mukaromah, Jumat (29/08/2025).
Lahan-lahan di Kalijering yang sebelumnya dibiarkan kosong kini mulai ditumbuhi singkong varietas unggulan. Suasana desa perlahan berubah. Gerakan ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi menanam harapan dan kesadaran baru, bahwa masa depan pangan harus dibangun dari bawah.
Selain penanaman, tim KKN juga menggelar workshop, diskusi, dan edukasi pertanian berbasis pangan lokal. Tujuannya jelas, yaitu menghidupkan kembali pengetahuan lokal yang mulai tergeser oleh ketergantungan sistemik pada beras.
"Pangan lokal bukan sekadar warisan nenek moyang. Ia adalah benteng terakhir ketahanan pangan desa," tegas Chusnul.
Dipilihnya singkong manggu bukan tanpa alasan. Singkong jenis ini dikenal memiliki umbi berukuran besar, yaitu mencapai 7–10 kilogram per pohon dengan rasa gurih, manis alami, serta tekstur empuk yang cocok untuk berbagai olahan makanan.
"Kami mendatangkannya langsung dari Jawa Barat. Ini varietas unggulan yang belum banyak dikenal di sini, tapi sangat potensial," jelasnya.
Singkong manggu juga lebih adaptif terhadap kondisi tanah dan minim perawatan, menjadikannya cocok untuk masyarakat desa yang mengandalkan pertanian sebagai penopang ekonomi.
Menurut Direktori Konsumsi Pangan Nasional 2024, konsumsi beras masyarakat Indonesia masih sangat tinggi: 92 kg per kapita per tahun. Sementara singkong hanya 8,5 kg, ubi jalar 3,1 kg, kentang 2,5 kg, dan sagu hanya 0,6 kg.
"Ketimpangan ini memperlihatkan betapa besarnya ruang pertumbuhan pangan lokal yang belum tergarap optimal," kata Chusnul.
Singkong tak hanya soal kenyang. Potensi ekonomi dari olahan singkong manggu, seperti keripik, getuk, tepung, dan jajanan pasar bisa membuka jalan tumbuhnya UMKM baru di desa.
Gerakan kecil ini mendapat dukungan penuh dari Kepala Desa Kalijering, Suyanto. Pihaknya berharap, langkah ini tidak berhenti pada program KKN, tapi bisa diteruskan sebagai gerakan kolektif masyarakat desa.
"Kami sangat mengapresiasi program ini. Ia menyentuh potensi lokal dan sekaligus jadi solusi atas isu pangan yang nyata kami hadapi," tuturnya.