TEGAL — Siswa dan guru SMP Negeri 19 Kota Tegal diberi edukasi tentang penyakit gagal ginjal kronik (GGK) yang merupakan salah satu masalah kesehatan global. Seperti diketahui, penyakit ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
Edukasi penyakit gagal ginjal kronik ini dilaksanakan di Ruang Kelas SMP Negeri 19 Tegal, Senin (16/6).
Tim pengabdian masyarakat dari Poltekkes Kemenkes Semarang bersama SMP Negeri 19 Tegal melaksanakan penyuluhan dan edukasi.
Edukasi ini meliputi penyampaian materi tentang pengenalan penyakit gagal ginjal kronik, tanda dan gejala awal, serta faktor risiko yang dapat dicegah melalui perilaku hidup sehat.
"Media yang digunakan adalah ceramah interaktif, video edukasi melalui media sosial Youtube, serta pemanfaatan media sosial grup Whatsapp agar pesan dapat menjangkau lebih luas dan efektif," kata Ketua Tim Pengabdian Masyarakat dari Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi D3 Keperawatan Tegal Anny Fauziyah.
Kegiatan tersebut melibatkan 52 peserta yang terdiri dari siswa kelas 7 dan 8, serta para guru. Sebelum dan sesudah kegiatan, dilakukan pengukuran indikator kesehatan seperti tekanan darah, berat badan, dan pengisian kuesioner deteksi risiko menggunakan metode Q-Kidney Score, Serta kuesioner pengetahuan.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pengetahuan peserta meningkat secara signifikan, dimana 85 persen dari siswa yang mengikuti kegiatan mampu mengidentifikasi tanda-tanda awal gagal ginjal kronik dan memahami pentingnya pola hidup sehat.
Selain itu, sebanyak 100 persen dari peserta menyatakan niat untuk mengurangi konsumsi gula, makanan dengan garam berlebih, makanan berlemak dan minuman bersoda, serta meningkatkan konsumsi air putih.
"Dampak dan Kontribusi terhadap Pembangunan Kesehatan, Program ini memberikan kontribusi besar terhadap upaya pembangunan kesehatan nasional, terutama dalam meningkatkan derajat kesehatan remaja dan mencegah penyakit tidak menular secara dini," ungkapnya.
Dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran akan bahaya penyakit gagal ginjal kronik, diharapkan muncul perubahan perilaku yang mendukung pola hidup sehat di kalangan remaja dan guru.
Selain itu, hasil dari kegiatan itu menjadi model implementasi edukasi kesehatan berbasis komunitas yang dapat diadopsi oleh lembaga pendidikan lain di Indonesia sebagai bagian dari kurikulum kesehatan sekolah.
Pendekatan itu juga mendukung program pemerintah dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular dan meningkatkan deteksi dini risiko GGK secara lebih luas.
"Saya berharap langkah selanjutnya Keberhasilan kegiatan itu menjadi langkah awal yang positif dalam membangun budaya hidup sehat dan pencegahan penyakit ginjal sejak usia dini," ujarnya.
Tim pengabdian masyarakat dari Poltekkes Kemenkes Semarang prodi D3 Keperawatan Tegal yang di ketuai oleh Anny Fauziyah berkomitmen untuk memperluas kegiatan itu dengan pengembangan materi edukasi berbasis digital yang dapat mempercepat penyebaran informasi yang akurat dan mendorong masyarakat aktif dalam menjaga kesehatan ginjal mereka.
Melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan masyarakat, diharapkan generasi muda Indonesia dapat terbebas dari bahaya penyakit gagal ginjal kronik dan mampu menjalani hidup yang lebih sehat dan produktif.
"Kesadaran, pengetahuan, dan perilaku hidup sehat harus menjadi fondasi utama dalam membangun bangsa yang sehat dan berkelanjutan," terangnya.
Kepala SMP Negeri 19 Rini Priyanti mengapresiasi atas kegiatan Pengadian Masayarakat ini yang memberikan kebaikan dan kemanfaatan.
"Terima kasih atas edukasi yang diberikan kepada siswa dan guru kami," pungjasnya.(meiwan)