BATANG — Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang mencatat ratusan hektare sawah di empat desa hilang karena rob. Total lahan sawah yang terdampak mencapai 370,19 hektare, tersebar hampir merata di Kecamatan Batang.
Rinciannya, Desa Denasri Wetan 109,69 ha, Denasri Kulon 128,29 ha, Kesepuhan 114,16 ha, dan Karangasem Utara 18,05 ha.
Kabid Tanaman Pangan Dinas Pangan dan Pertanian Batang, Rini Diana Anggriani, menegaskan pemerintah daerah berupaya mencari solusi jangka panjang dengan menggandeng lembaga riset nasional.
“Penanganannya, kami ingin mereplika kesuksesan Kota Pekalongan dengan bekerjasama dengan BRIN dan balai di Bogor sebagai narasumber. Harapannya, melalui benih salinitas yang kami kembangkan, lahan terdampak rob masih bisa ditanami padi,” ujarnya, Kamis 28 Agustus 2025.
Menurut Rini, konsep ini bisa menjadi awal solusi bagi petani agar tetap produktif meski lahan mereka terpapar intrusi air laut.
Di sisi lain, Fenomena rob di Kelurahan Kesepuhan sendiri bukan hal baru. Kepala Kelurahan Kesepuhan, Umar Winanto, menyebut bencana ini sudah berlangsung lebih dari satu dekade.
“Total ada 120 hektare lahan yang sudah tidak bisa ditanam, dan 30 hektare lagi terdampak rob musiman,” ungkap Umar.
Kerusakan bukan hanya menyasar sawah. Dari 25 hektare kebun melati yang dulu disebut warga sebagai “emas putih”, kini tidak tersisa sedikit pun.
Tahun lalu, dari 201 hektare lahan produktif, masih ada 115 hektare yang bisa diselamatkan. Namun kini, setiap tahun lahan yang hilang mencapai 5–10 hektare.
Para petani menduga rob yang merendam lahan mereka bukan hanya datang dari arah utara, tetapi juga dari barat, tepatnya Desa Denasri.
Mereka menilai, tanggul laut di Kota Pekalongan menjadi salah satu penyebab pergeseran aliran rob hingga ke Kesepuhan.
“Itu kan pemikiran dan analisa sederhana dari laporan petani ke kelurahan, yang dimungkinkan akibat dari tanggul laut Kota Pekalongan,” terang Umar.
Menghadapi situasi genting ini, pihak kelurahan sudah melayangkan nota dinas kepada Bupati Batang dengan tembusan ke dinas terkait, termasuk DLH, Dinas Perikanan, serta Dinas Pangan dan Pertanian.
Upaya sementara seperti penanaman mangrove sudah dijalankan. Namun Umar menilai, solusi jangka panjang tetaplah pembangunan tanggul laut atau giant sea wall.
“Kami masih menunggu,” ucapnya penuh harap.
Para petani juga menginginkan lahan mereka bisa pulih seperti di Pekalongan, di mana area bekas rob berhasil direvitalisasi menjadi sawah produktif.
“Harapan para petani mengembalikan pada pertanian produktif, artinya ada tanggul,” tambah Umar.
Sawah di Kesepuhan dulunya mampu panen dua kali setahun, menghasilkan 6–9 ton per hektare, bahkan hingga 11 ton jika kondisi optimal. Namun kini potensi pangan itu terancam hilang.
“Pembangunan tanggul laut sangatlah mendesak karena terkait produksi pangan,” tegas Umar.
Yang lebih mengkhawatirkan, rob diperkirakan akan terus merembet ke arah selatan dan mengancam permukiman warga.