JEPARA — Geografis Kabupaten Jepara yang berada di tepi pantai dan pegunungan, tentu saja wilayahnya rawan bencana. Apalagi memasuki musim penghujan, Pemkab Jepara meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam.
Sebagai langkah antisipasi banjir, tanah longsor, puting beliung dan lainnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Mereka menggelar Sosialisasi Strategi Penanggulangan dalam menghadapi musim penghujan.
Para relawan dibekali dengan teknik penanganan sebelum bencana terjadi. Kegiatan ini diinisiasi oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, H. Abdul Wachid, di Pendapa Kartini, Kamis (23/10/2025).
Kegiatan ini bertujuan memastikan kesiapsiagaan seluruh unsur terkait, mulai dari personel BPBD, relawan hingga perangkat daerah, dalam menghadapi sewaktu-waktu terjadi.
Bupati Jepara Witiarso Utomo yang diwakili Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar menjelaskan, berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2024, Kabupaten Jepara berada pada kelas risiko sedang dengan skor 119,49.
"Namun, jika kita lihat lebih rinci beberapa jenis ancaman masih berada pada kategori tinggi, antara lain banjir, kebakaran, gelombang tinggi, serta kekeringan, " ujar Wabup Hajar.
Khusus untuk kekeringan, hasil kajian risiko 2023–2027 menunjukkan bahwa dari 195 desa/kelurahan di Jepara, 192 desa berada pada risiko tinggi.
Data tiga tahun terakhir juga mencatat ribuan jiwa terdampak kekeringan, dengan distribusi air bersih mencapai jutaan liter yang dilakukan oleh BPBD bersama mitra.
“Untuk peralatan BPBD Jepara sudah mencukupi dan siap digunakan, termasuk personel. Kami juga sudah menjalin koordinasi dengan tiap kecamatan serta melakukan pemetaan daerah rawan bencana,” papar Hajar.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemkab Jepara telah menyusun strategi penanganan krisis air bersih 2026–2028. Antara lain pembuatan dan optimalisasi sumur bor, pembangunan jaringan pipanisasi baru, perbaikan jaringan pipa yang rusak, peningkatan kinerja PDAM.
Tidak hanya itu, penguatan sinergi dengan dunia usaha dan masyarakat sangat dibutuhkan. Sambil menunggu penanganan jangka panjang, droping air bersih dengan truk tangki tetap menjadi solusi darurat.
Karena itu, bantuan mobil truk tangki air yang kita terima hari ini sangat relevan dan bermanfaat. Begitu pula dengan chainsaw, yang akan memperkuat kesiapsiagaan kita dalam menghadapi potensi bencana alam.
"Bencana adalah urusan bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dengan kebersamaan, kita bisa memperkuat ketangguhan Jepara dalam menghadapi ancaman bencana," jelasnya.
Pada kesempatan itu, telah diserahkan bantuan bantuan mobil truk tangki air untuk Kabupaten Jepara dari BNPB yang diserahkan H. Abdul Wachid kepada Gus Hajar.
Kegiatan itu dihadiri Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Dr. Raditya Jati, Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana BNPB.
Selain itu, Nadhirah Seha Nur, Sekretaris Daerah Jepara Ary Bachtiar dan Plt. Kepala Pelaksana BPBD Jepara Arwin Nur Isdianto.