Jakarta — Upaya meningkatkan minat masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menonton wayang kulit tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Kesadaran dari keluarga dinilai menjadi kunci utama agar kecintaan terhadap seni tradisi tetap tumbuh di tengah derasnya arus budaya modern.
Hal tersebut disampaikan Kabid Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Eris Yunianto disela Festival Dalang Anak Nasional 2025 di Gedung Pewayangan Kautaman, Jakarta.
Menurut Eris, pemerintah sudah melakukan langkah-langkah struktural sesuai mandat undang-undang untuk memajukan kebudayaan melalui jalur pendidikan. Namun, upaya tersebut belum cukup tanpa dukungan penuh dari keluarga.
"Anak-anak sekarang lebih senang ke bioskop daripada menonton wayang. Pertanyaannya, apakah keluarga sudah mengajak anak-anaknya menonton wayang? Kesadaran ini harus tumbuh dari rumah," ujarnya kepada Diswayjateng.com, Rabu 5 November 2025.
Eris menegaskan, pemerintah berperan sebagai fasilitator dengan memberikan ruang ekspresi bagi generasi muda, seperti melalui penyelenggaraan Festival Dalang Anak yang dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat daerah hingga nasional. Tujuannya, agar anak-anak dan remaja mengenal serta memahami nilai-nilai luhur dalam seni pedalangan.
“Wayang bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi pondasi membangun karakter dan kemanusiaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong peningkatan angka melek budaya, khususnya di kalangan anak-anak dan remaja. Melalui berbagai kegiatan kebudayaan, termasuk fasilitasi sanggar dan lembaga budaya, pemerintah berharap seni tradisional tetap lestari dan relevan di era digital.
"Budaya tidak bisa dijaga oleh pemerintah saja. Semua elemen, mulai dari dunia usaha, lembaga pendidikan, hingga masyarakat umum, harus ikut menggelorakan kecintaan terhadap seni tradisi,” tegas Eris.
Diketahui Jawa Tengah sendiri mengirimkan lima dalang cilik yang akan diuji keahliannya di tingkat Nasional. Mereka adalah Danendra Dananjaya Djuanda (Kategori A) dari Kota Semarang, Kenzie Lintang Trenggono (Kategori A) dari Kabupaten Semarang, Respati Listyatmoko (Kategori B) dari Kabupaten Wonogiri, Syafathur Dwi Aprian (Kategori B) dari Kabupaten Cilacap, dan Muhammad Amin Al Basri (Kategori B) dari Kabupaten Rembang.
Eris berpesan kepada para dalang cilik asal Jawa Tengah agar terus belajar dan mencintai seni pewayangan sebagai bagian dari jati diri bangsa.
“Kalian sudah mencintai wayang, teruslah belajar dan berlatih. Jadilah dalang hebat yang mampu menjaga warisan budaya bangsa,” pesannya.(sul)