SRAGEN —
Di tengah tuntutan kinerja dan tantangan dalam memberikan pelayanan yang tinggi, Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Sragen harus berjuang keras memenuhi standar waktu respons cepat 15 menit. Padahal anggaran mereka cupet atau rendah untuk pelayanan dengan luas wilayah 20 kecamatan, .
Secara Geografis wilayah di Sragen yang terbagi di utara dan selatan Bengawan Solo. Dengan karakteristik berbeda dan layanan kemanusiaan, damkar Sragen berusaha tegar dari di tengah keterbatasan anggaran, armada, dan personel.
Saat di temui wartawan, Kepala Bidang Damkar Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sragen, Tomy Isharyanto mengungkapkan bahwa operasional Damkar Sragen jauh dari kata ideal. "Kami menyadari tugas kami, tidak hanya memadamkan kebakaran, evakuasi itu juga berisiko," ujar Tomy.
Dia mengakui minimnya anggaran yang hanya berkisar Rp 150 juta per tahun untuk operasional. Belum termasuk pemeliharaan kendaraan yang ditanggung Satpol-PP.
"Saya kemarin rapat sama Komisi I minta anggaran gede, tapi setelah dibuka, yang besar itu kan honorer untuk anggota saya," tambahnya.
Kondisi itu menggambarkan betapa tipisnya alokasi dana untuk kebutuhan vital operasional. Lantas saat ini, Damkar Sragen hanya memiliki dua posko, yaitu di Pos Induk Sragen dan Gemolong.
Pos Induk memiliki lima kendaraan, namun hanya tiga armada yang siap tugas. Sementara itu, Pos Gemolong hanya memiliki satu armada.
Adanya dua unit yang sudah tidak layak pakai semestinya butuh perhatian. Parahnya lagi, untuk mobil operasional taktis, Damkar Sragen tidak memilikinya dan terpaksa menggunakan mobil dinas Kepala Bidang Damkar.
Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat standar waktu respons 15 menit dari Kemendagri. Tomy menjelaskan bahwa untuk memenuhi standar tersebut, idealnya Sragen membutuhkan posko di setiap eks-kawedanan seperti Sragen, Gondang, Tangen, dan Gemolong. "Kalau di masing-masing kawedanan ada posko itu sifatnya awalan penanganan awal," ujarnya.
Saat ini, Damkar Sragen sedang berupaya mengajukan pembangunan pos ketiga di Karesidenan Tangen, yang diharapkan dapat memperpendek waktu respons di wilayah utara yang dikenal sulit air.
Evakuasi yang ditangani mencakup kasus-kasus membahayakan seperti ular, tawon, biawak, hingga aduan warga tentang sapi masuk sumur, kambing masuk sumur, dan kucing tidak bisa turun.
Selain kebakaran, beban kerja Damkar Sragen sangat beragam dan terjadi setiap hari. "Kalau evakuasi tiap hari ada, kalau kebakaran masih normal," kata Tomy.
Dengan 46 personel Damkar, Tomy mengungkapkan bahwa pembagian regu pun belum ideal. Di Mako Induk, satu regu seharusnya memiliki empat personel yakni driver, operator, nozzle man, dan asisten nozzle man. Namun saat ini satu regu terdiri dari sembilan orang dengan tiga armada yang masing-masing diisi tiga personel.
Di Gemolong, satu regu dengan empat orang dinilai aman, namun tidak cukup untuk mencakup seluruh area Sragen.
"Untuk minimal misal ada penambahan posko di kawedanan itu satu armada per posko. Tapi petugas kan harus disiapkan tiga sif tiga regu per regu empat orang," terang Tomy.
Keterbatasan juga melanda peralatan. Beberapa alat evakuasi masih sangat minim. Tomy mencontohkan insiden di gudang pupuk, di mana anggotanya harus dirawat karena terpapar gas asap.
"Kita butuh segera untuk APD penyuplai oksigen, ada masker dan sebagainya. Saat evakuasi kita butuh helm standar, butuh tali hornets, alat itu bisa untuk evakuasi, butuh banyak kita," selorohnya.