KARANGANYAR, diswayjateng.com -- Dua puluh tahun bukan waktu singkat bagi sebuah perusahaan untuk bertahan, apalagi di industri cat yang persaingannya dikuasai merek asing.
Namun PT Indaco Warna Dunia (INDACO) berhasil membuktikan diri. Pada 5 Desember 2025 mendatang, perusahaan yang berlokasi di Desa Pulosari, Kebakkramat, Karanganyar, itu genap berusia 20 tahun.
Sejak awal berdiri, INDACO mengusung identitas berbeda, murni karya anak bangsa tanpa lisensi luar negeri. Hal itu tak lepas dari visi sang pendiri sekaligus Presiden Direktur, Iwan Adranacus.
“INDACO lahir untuk Indonesia. Dari awal saya ingin perusahaan ini benar-benar independen, bukan sekadar membawa nama asing,” ujarnya.
Perjalanan INDACO dimulai pada 2005, di sebuah bangunan bekas pabrik roti di kawasan Kadipiro, Solo. Saat itu, Iwan baru saja memutuskan meninggalkan Jakarta setelah sempat menjalankan usaha cat skala kecil bersama rekan bisnisnya.
Dengan modal tekad dan keyakinan, Iwan mengontrak bangunan tersebut dan mengubahnya menjadi pabrik mini. Pada 5 Desember 2005, mesin pertama resmi beroperasi. Dua produk perdana yang diluncurkan adalah Envitex (cat tembok) dan Envilux (cat kayu-besi).
Respons pasar begitu cepat. Hanya dalam setahun, penjualan di Solo Raya, Jawa Tengah, dan DIY melesat, bahkan menyalip produksi pabrik yang pernah dijalankannya di Jakarta. Sejak saat itu, Iwan memilih fokus penuh di Solo.
Kesuksesan awal mendorong ekspansi lebih besar. Pada 2007, pabrik pindah ke lokasi permanen di Desa Pulosari, Kebakkramat, Karanganyar. Dari sini, kapasitas produksi terus meningkat, seiring lahirnya berbagai varian baru.
Pada 2010, INDACO menyatukan dua brand awalnya menjadi Envi. Nama ini diambil dari kata environmentally friendly yang mencerminkan komitmen produk ramah lingkungan.
“Sejak awal kami ingin berbeda. Cat yang kami buat tidak hanya berkualitas, tapi juga aman dan peduli lingkungan,” tegas Iwan.
Kini, INDACO masuk 10 besar produsen cat nasional, bahkan menempati tiga besar di Jawa Tengah. Dengan segmen medium-premium, perusahaan ini semakin mantap menatap target masuk lima besar nasional.
Di tengah dominasi perusahaan cat berlisensi asing, keberadaan INDACO membawa kebanggaan tersendiri.
“INDACO adalah satu-satunya perusahaan cat di Indonesia yang benar-benar lokal. Semua dari kita, semua untuk Indonesia,” ujar Iwan.
Lebih dari sekadar bisnis, INDACO menanamkan nilai keberlanjutan. Teknologi produksi dikembangkan untuk mengurangi limbah, sementara konsep ramah lingkungan menjadi DNA setiap produknya.
Memasuki usia dua dekade, INDACO bukan hanya soal cat yang mewarnai tembok dan kayu. Ia juga simbol bahwa anak bangsa mampu berdiri sejajar dengan pemain global, tanpa harus bergantung pada lisensi asing.