Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Ekonomi Kreatif Semarang Kian Bergeliat, DPRD dan Dinas UMKM Dorong Pelaku Lokal Naik Kelas

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang
Dyah Tunjung Pudyawati soroti geliat Ekonomi Kreatif Kota Semarang Ekonomi Kreatif dan Inovasi Lokal: Motor Baru Pertumbuhan Kota Semarang. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Dyah Tunjung Pudyawati, menilai sektor ekonomi kreatif di Kota Semarang terus menunjukkan perkembangan positif. Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam diskusi bertema “Ekonomi Kreatif dan Inovasi Lokal: Motor Baru Pertumbuhan Kota Semarang”, Rabu 12 November 2025.


Menurut Dyah, potensi ekonomi kreatif di Semarang sangat besar, terutama pada sektor kuliner, hiburan, kriya, dan fashion.


“Potensinya luar biasa. Di Semarang yang paling kuat itu kuliner, lalu hiburan, kriya, dan fashion,” ungkap Dyah.


Ia menilai, Kota Semarang memiliki karakter pertumbuhan ekonomi yang khas. Meskipun tidak bergerak secepat kota besar lainnya, Semarang memiliki ritme tersendiri yang justru menjadi peluang bagi pelaku usaha.


“Kalau di kota lain sesuatu sudah ramai, di Semarang biasanya dua sampai tiga tahun kemudian baru tren. Tapi ini bukan kelemahan, melainkan peluang. Pelaku usaha bisa menyiapkan diri lebih awal,” ujarnya.


Dyah menambahkan, kunci keberlangsungan pelaku ekonomi kreatif di tengah turunnya daya beli masyarakat terletak pada strategi pemasaran dan kreativitas. Ia menilai pemerintah melalui Dinas Koperasi dan UMKM telah memberikan dukungan yang nyata.


“Pemerintah sudah banyak membantu melalui pelatihan, permodalan, dan pendampingan. Dinas Koperasi dan UMKM luar biasa memfasilitasi dari hulu ke hilir,” kata Dyah.


Dyah mencontohkan geliat bisnis kopi di Semarang yang tumbuh berkat kearifan lokal dan kreativitas pelaku usahanya. Misalnya di Blok GM (Gajahmada) yang menjadi pusat komunitas mobil klasik setiap Minggu pagi, serta Kopi Pekojan yang memanfaatkan suasana kawasan Kota Lama sebagai tempat nongkrong anak muda.


“Lihat saja Kopi Pekojan dan Blok GM. Mereka mulai dari modal kecil, tapi pengunjungnya ramai. Di Pekojan, dari sore sampai malam selalu padat,” tuturnya.


Dyah berharap pemerintah memberikan ruang lebih luas dan kebijakan yang berpihak bagi pelaku usaha seperti itu agar keberlangsungannya terjaga.

“Harus ada regulasi yang mendukung supaya tidak hanya ramai musiman, tapi bisa berkelanjutan. Kalau terus hidup, Semarang akan semakin maju,” tambahnya.


Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang, Mohammad Waluyo Sejati, menegaskan sektor kuliner menjadi penggerak utama ekonomi kreatif di kota ini.


“Pelaku usaha mikro di Semarang luar biasa aktif. Dalam setiap event besar seperti Festival Wayang Semesta atau Lawang Sewu Short Film Festival, kami libatkan mereka. Penjualan produk mereka selalu tinggi, baik kuliner maupun kriya,” jelas Waluyo.


Ia juga mengungkapkan, sejumlah UMKM binaan telah berhasil menembus pasar nasional bahkan internasional melalui program inkubasi dan pameran dagang.


“Kami sudah ikut pameran di luar kota dan luar negeri. Ada yang sampai ke pasar internasional, membuktikan UMKM Semarang punya daya saing tinggi,” ujarnya.


30 Ribu Pelaku Usaha Mikro di Semarang

Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang, terdapat lebih dari 30 ribu pelaku usaha mikro yang telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Mereka tergabung dalam lebih dari 60 komunitas UMKM di berbagai wilayah.


“Kami berupaya agar semua komunitas bisa mandiri, tidak bergantung sepenuhnya pada pemerintah,” kata Waluyo.


Ia menambahkan, kolaborasi antar-organisasi perangkat daerah menjadi strategi penting untuk memperkuat sinergi program pemberdayaan UMKM.


“Menjelang akhir tahun, geliat ekonomi makin terasa. Misalnya di Festival Wayang, pelaku UMKM bisa meraup omzet lebih dari Rp1 juta per hari. Ini menandakan daya beli masyarakat mulai meningkat,” tutupnya.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube