Brebes — Sri Hastutik tak lagi resah saat persediaan air bersih di rumahnya menipis.
Warga Desa Randusanga Kulon Kabupaten Brebes itu kini hanya perlu berjalan beberapa langkah untuk mengisi galon air minumnya.
Dengan uang Rp2.500, ia sudah bisa membawa pulang satu galon air layak konsumsi—lebih murah setengah harga dibandingkan air isi ulang yang selama ini ia beli.
“Senang sekali karena kalau butuh air bersih lebih dekat dan harganya murah. Dulu kalau beli air harus menempuh jarak satu kilometer,” tuturnya sambil tersenyum lega.
Air itu berasal dari instalasi desalinasi milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Dari enam titik yang telah dibangun di pesisir pantai utara, salah satunya berdiri di desanya.
Teknologi penyulingan air laut menjadi air tawar ini menjadi jawaban dari persoalan bertahun-tahun: sulitnya air bersih akibat air tanah yang tercemar rob dan intrusi air laut.
Air tak lagi harus direbus
Bagi Sri, kualitas air hasil desalinasi membuat hidupnya jauh lebih mudah. Ia tak perlu lagi merebus air untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan aman digunakan untuk membuat susu bagi bayinya yang baru berusia tiga bulan.
“Ya airnya bagus. Kalau buat susu bayi bisa sehat, dan rasanya tidak asin,” ujarnya.
Tak hanya rumah tangga, pelaku usaha seperti Supriyatin, pemilik warung makan di desa yang sama, ikut merasakan keberkahan program ini.
“Wah, rasanya ada manisnya, lebih enak dibanding air di sini. Jadi, pelanggan lebih suka,” ungkapnya.
Sebelumnya, ia harus mengambil air dari sumur bor yang jaraknya cukup jauh, lalu memasaknya terlebih dahulu sebelum digunakan.
Kini, air desalinasi langsung bisa digunakan untuk memasak dan menyeduh minuman bagi pelanggan warungnya.
Pemerintah hadir dengan solusi nyata
Kepala Desa Randusanga Kulon, Afan Setiono, menyebut desalinasi sebagai bukti nyata hadirnya pemerintah di tengah masyarakat pesisir.
“Pemerintah hadir dan tahu, mana program prioritas yang harus dilakukan untuk masyarakat,” katanya.
Di desanya, ada lebih dari 9.200 jiwa yang mayoritas terdampak air rob. Air bersih menjadi kebutuhan mendesak yang selama ini sulit dipenuhi.
Kini, instalasi desalinasi mampu memproduksi lebih dari 200 galon per hari. Selain memenuhi kebutuhan warga, air itu juga menopang UMKM lokal.
Bahkan, pihak desa tengah menjajaki kerja sama dengan Bumdes dan Koperasi Desa Merah Putih.
Mereka berencana memanfaatkan air desalinasi sebagai bahan baku produksi olahan rumput laut seperti sirup dan permen.
Program berlanjut hingga 2026
Kepala Dinas PU Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Jawa Tengah, Hanung Triyono, menyebut total enam titik desalinasi telah terbangun; tiga dibiayai APBD, tiga lainnya dari CSR.
Penyebarannya ada di Pati, Demak, Pekalongan, dan Brebes.
“Selain untuk kebutuhan air bersih, program ini juga selaras dengan pengentasan kemiskinan dan stunting,” ujarnya.
Program ini, kata Hanung, merupakan implementasi dari slogan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin: Ngopeni Nglakoni Jawa Tengah, khususnya dalam membangun desa maju dan berdaya.
Pemerintah bahkan tengah menyiapkan keberlanjutan program ini agar tetap berjalan hingga 2026.
Bagi Sri, Supriyatin, dan ribuan warga pesisir lainnya, desalinasi bukan sekadar teknologi. Ia adalah harapan baru—air bersih yang dulu mahal dan jauh, kini hadir dalam genggaman. Sebotol air jernih kini bukan lagi kemewahan, melainkan hak yang akhirnya terpenuhi.